Mengenal Saham Lapis Ketiga: Pengertian, Ciri-Ciri, Potensi, dan Risikonya

Dalam dunia investasi saham, investor sering mendengar istilah saham lapis pertama, saham lapis kedua, dan saham lapis ketiga. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kelompok saham berdasarkan ukuran perusahaan, kapitalisasi pasar, likuiditas, dan karakteristik pergerakan harganya.

Jika saham lapis pertama biasanya identik dengan perusahaan besar atau blue chip, sedangkan saham lapis kedua sering disebut sebagai mid-cap atau second liner, maka saham lapis ketiga berada pada kelompok perusahaan dengan ukuran kapitalisasi pasar yang lebih kecil.

Saham lapis ketiga memang menarik perhatian sebagian trader karena harga dan pergerakannya bisa sangat dinamis. Dalam kondisi tertentu, saham seperti ini bahkan dapat masuk daftar top gainers dan mengalami kenaikan harga yang sangat cepat.

Namun, di balik peluang tersebut terdapat risiko yang juga tidak kecil.

Lantas, apa yang dimaksud dengan saham lapis ketiga, apa ciri-cirinya, mengapa pergerakan harganya bisa sangat fluktuatif, dan apakah saham jenis ini cocok untuk investor pemula?

Apa Itu Saham Lapis Ketiga?

Saham lapis ketiga adalah saham perusahaan dengan kapitalisasi pasar relatif kecil yang dalam istilah pasar sering disebut sebagai small-cap atau third liner.

Istilah first liner, second liner, dan third liner sendiri bukan merupakan klasifikasi resmi dari Bursa Efek Indonesia. Istilah tersebut lebih banyak digunakan oleh investor dan pelaku pasar untuk mengelompokkan saham berdasarkan ukuran kapitalisasi pasar, volume perdagangan, likuiditas, dan karakteristik pergerakannya.

Stockbit menjelaskan bahwa saham third liner merupakan kelompok saham yang berada di bawah first liner dan second liner dari sisi kapitalisasi pasar. Saham ini umumnya termasuk kategori small-cap dan dapat mengalami fluktuasi harga yang cukup drastis.

Sementara itu, MOST mengelompokkan saham lapis ketiga sebagai saham dengan kapitalisasi pasar kecil, yaitu di bawah Rp500 miliar. Harga sahamnya relatif kecil dan volatilitasnya cenderung tinggi.

Meski demikian, angka tersebut sebaiknya tidak dianggap sebagai batas mutlak. Pengelompokan saham dapat berbeda tergantung metode dan sumber yang digunakan.

Dengan memahami hal tersebut, kita bisa melihat bahwa istilah "lapis ketiga" bukan berarti perusahaan tersebut otomatis merupakan perusahaan buruk. Ukuran kapitalisasi pasar hanya menunjukkan besarnya nilai pasar perusahaan, bukan langsung menentukan kualitas bisnisnya.

Bagaimana Saham Dikategorikan sebagai Lapis Ketiga?

Untuk memahami mengapa suatu saham disebut lapis ketiga, kita perlu mengenal terlebih dahulu konsep kapitalisasi pasar.

Kapitalisasi pasar atau market capitalization merupakan nilai pasar seluruh saham perusahaan yang beredar. Secara sederhana, kapitalisasi pasar dapat dihitung dengan mengalikan harga saham dengan jumlah saham yang beredar.

Misalnya, sebuah perusahaan memiliki 1 miliar saham beredar dan harga sahamnya Rp300 per lembar. Maka secara sederhana kapitalisasi pasarnya adalah Rp300 miliar.

Jika menggunakan pengelompokan yang dijelaskan MOST, perusahaan dengan kapitalisasi pasar di bawah Rp500 miliar dapat masuk kategori saham lapis ketiga.

Namun, kapitalisasi pasar tidak bersifat tetap. Jika harga saham naik atau turun, nilai kapitalisasi pasar juga dapat berubah.

Karena itu, posisi sebuah perusahaan dalam kelompok kapitalisasi tertentu juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Saham Lapis Ketiga, Small Cap, dan Penny Stock Apakah Sama?

Istilah third liner, small cap, dan penny stock sering digunakan dalam konteks yang berdekatan, tetapi sebenarnya tidak selalu berarti persis sama.

Third liner lebih merujuk pada tingkatan atau pengelompokan saham berdasarkan kapitalisasi pasar dan karakteristik perdagangan.

Small-cap lebih spesifik menggambarkan perusahaan dengan kapitalisasi pasar yang relatif kecil.

Sementara itu, penny stock biasanya lebih menekankan pada harga saham yang rendah dan karakteristik perdagangan tertentu. Karena definisi penny stock dapat berbeda antarnegara dan pasar, istilah tersebut tidak sebaiknya langsung disamakan dengan seluruh saham lapis ketiga.

Dalam konteks pasar saham Indonesia, investor sering menghubungkan saham lapis ketiga dengan saham berharga rendah, likuiditas terbatas, dan volatilitas tinggi. Namun, investor tetap perlu melihat karakter masing-masing saham, bukan hanya labelnya.

Posisi Saham Lapis Ketiga Dibandingkan Saham Lapis Pertama dan Kedua

Agar lebih mudah dipahami, saham di pasar sering digambarkan dalam tiga kelompok besar.

Saham Lapis Pertama

Saham lapis pertama atau first liner biasanya terdiri dari perusahaan dengan kapitalisasi pasar besar, fundamental relatif kuat, likuiditas tinggi, dan rekam jejak yang lebih matang.

Kelompok ini sering dikaitkan dengan saham blue chip.

Pergerakan harga sahamnya cenderung lebih stabil dibandingkan saham berkapitalisasi kecil, meskipun tentu saja tetap memiliki risiko.

Saham Lapis Kedua

Saham lapis kedua atau second liner berada di antara perusahaan besar dan perusahaan kecil.

Kelompok ini biasanya disebut sebagai mid-cap. Perusahaan sudah memiliki bisnis yang cukup berkembang, tetapi masih memiliki ruang ekspansi yang lebih besar dibandingkan perusahaan yang sudah sangat besar.

Pergerakan sahamnya cenderung lebih fluktuatif dibandingkan saham lapis pertama.

Saham Lapis Ketiga

Sementara itu, saham lapis ketiga berada pada kelompok dengan kapitalisasi pasar lebih kecil.

Likuiditasnya bisa lebih rendah dan pergerakan harga dapat menjadi jauh lebih agresif.

Dari sinilah muncul perbedaan karakter yang perlu dipahami investor: semakin kecil kapitalisasi dan likuiditas sebuah saham, semakin penting bagi investor untuk memperhatikan risiko perdagangan dan kualitas fundamental perusahaan.

Ciri-Ciri Saham Lapis Ketiga

Setelah memahami posisinya, kita bisa mengenali beberapa karakteristik yang umum ditemukan pada saham lapis ketiga.

1. Kapitalisasi Pasar Relatif Kecil

Ciri utama saham lapis ketiga adalah kapitalisasi pasar yang lebih kecil dibandingkan saham lapis pertama dan kedua.

MOST menggunakan angka di bawah Rp500 miliar sebagai salah satu batas untuk kelompok small-cap atau third liner.

Namun, angka tersebut bukan berarti seluruh pihak menggunakan batas yang sama.

Karena itu, investor sebaiknya melihat kapitalisasi pasar sebagai salah satu indikator, bukan sebagai satu-satunya penentu.

2. Harga Saham Cenderung Rendah

Saham lapis ketiga sering memiliki harga per lembar yang lebih rendah dibandingkan saham perusahaan besar.

Namun, harga saham yang murah tidak otomatis berarti saham tersebut sedang murah secara valuasi.

Ini merupakan kesalahan yang cukup sering terjadi pada investor pemula.

Saham seharga Rp50 belum tentu lebih murah daripada saham seharga Rp5.000. Harga per lembar tidak bisa digunakan sendirian untuk menentukan murah atau mahalnya sebuah perusahaan.

Investor tetap perlu melihat kapitalisasi pasar, jumlah saham beredar, kinerja keuangan, laba, aset, utang, dan valuasi perusahaan.

3. Volatilitas Harga Tinggi

Salah satu karakteristik yang paling menonjol dari saham lapis ketiga adalah pergerakan harga yang dapat sangat fluktuatif.

Stockbit dan MOST sama-sama menempatkan volatilitas tinggi sebagai salah satu karakteristik saham lapis ketiga.

Dalam kondisi pasar tertentu, harga saham dapat naik dalam waktu singkat. Namun, kenaikan tersebut juga dapat diikuti penurunan tajam.

Pergerakan seperti ini membuat saham lapis ketiga menarik bagi trader yang mencari peluang jangka pendek, tetapi sekaligus meningkatkan risiko kerugian.

4. Likuiditas Bisa Lebih Rendah

Tidak semua saham lapis ketiga aktif diperdagangkan.

Ada saham yang memiliki volume transaksi cukup tinggi pada waktu tertentu, tetapi ada juga yang sangat sepi.

Likuiditas rendah menjadi persoalan tersendiri karena investor bisa mengalami kesulitan ketika ingin menjual saham dalam jumlah besar.

Bahkan ketika harga terlihat menarik, belum tentu tersedia cukup banyak pembeli pada harga tersebut.

5. Lebih Sensitif terhadap Sentimen

Saham berkapitalisasi kecil dapat lebih mudah mengalami perubahan harga ketika muncul berita, rumor, aksi korporasi, atau perubahan sentimen pasar.

Ketika jumlah transaksi tidak terlalu besar, aktivitas pembelian atau penjualan dalam jumlah tertentu juga dapat memberikan pengaruh lebih besar terhadap harga.

Karena itu, investor perlu berhati-hati ketika melihat saham lapis ketiga tiba-tiba naik sangat tinggi.

Mengapa Saham Lapis Ketiga Bisa Naik Sangat Cepat?

Salah satu hal yang membuat saham lapis ketiga menarik perhatian adalah kemampuannya mencatat kenaikan harga yang sangat besar dalam waktu singkat.

Dalam pemberitaan CNBC Indonesia, saham-saham lapis ketiga pernah mendominasi daftar top gainers. Fenomena tersebut menunjukkan bahwa saham berkapitalisasi kecil dapat mengalami lonjakan harga yang jauh lebih besar dibandingkan saham-saham berkapitalisasi besar dalam periode tertentu.

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan hal tersebut.

Pertama adalah likuiditas yang relatif rendah. Ketika permintaan meningkat secara tiba-tiba, harga dapat bergerak lebih cepat.

Kedua adalah sentimen atau katalis tertentu. Berita perusahaan, aksi korporasi, perubahan bisnis, atau sentimen sektor dapat menarik perhatian pelaku pasar.

Ketiga adalah aktivitas spekulatif. Saham dengan kapitalisasi kecil dan likuiditas rendah lebih rentan mengalami pergerakan yang agresif.

Namun, kenaikan harga yang cepat tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa fundamental perusahaan membaik.

Investor harus mencari tahu penyebab kenaikan tersebut sebelum ikut membeli.

Apakah Saham Lapis Ketiga Sama dengan Saham Gorengan?

Istilah saham lapis ketiga dan saham gorengan sering digunakan secara berdekatan, tetapi keduanya tidak sepenuhnya identik.

Saham lapis ketiga menggambarkan kelompok saham berdasarkan ukuran dan karakteristik tertentu, terutama kapitalisasi pasar.

Sementara itu, istilah saham gorengan biasanya digunakan untuk menggambarkan saham yang pergerakan harganya dianggap sangat spekulatif dan dapat dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan yang tidak mencerminkan fundamental perusahaan.

Astronacci menjelaskan bahwa saham third liner kerap dikaitkan dengan saham gorengan karena volatilitasnya tinggi dan dapat menjadi sasaran spekulasi.

Namun, bukan berarti semua saham berkapitalisasi kecil pasti sedang dimanipulasi.

Ada perusahaan kecil yang benar-benar memiliki bisnis dan prospek yang menarik. Karena itu, investor perlu melakukan analisis sebelum memberikan label tertentu pada sebuah saham.

Apa Kelebihan Saham Lapis Ketiga?

Meskipun risikonya tinggi, saham lapis ketiga tetap mempunyai beberapa daya tarik.

Potensi Kenaikan Harga yang Besar

Perusahaan berkapitalisasi kecil memiliki ruang pertumbuhan yang lebih besar secara persentase.

Misalnya, perusahaan dengan nilai pasar Rp300 miliar yang berkembang menjadi Rp600 miliar mengalami peningkatan nilai pasar sebesar 100%.

Secara teori, ruang pertumbuhan seperti ini lebih sulit terjadi pada perusahaan yang kapitalisasinya sudah sangat besar.

Itulah salah satu alasan saham small-cap sering menjadi perhatian investor yang mencari pertumbuhan agresif.

Bisa Menjadi Kandidat Growth Stock

Tidak semua perusahaan kecil akan tetap kecil.

Perusahaan yang mampu meningkatkan pendapatan, laba, pangsa pasar, dan skala bisnisnya dapat berkembang menjadi perusahaan yang lebih besar.

Jika pertumbuhan tersebut benar-benar terjadi, investor yang sudah memiliki saham sejak tahap awal berpotensi mendapatkan keuntungan dari kenaikan nilai perusahaan.

Namun, potensi tersebut datang bersama ketidakpastian yang lebih tinggi.

Peluang Trading Jangka Pendek

Volatilitas tinggi membuat sebagian trader tertarik pada saham lapis ketiga.

Pergerakan harga yang cepat dapat memberikan peluang bagi trader yang memiliki strategi, disiplin, dan kemampuan membaca risiko.

Namun, trading pada saham dengan volatilitas tinggi bukan berarti mudah mendapatkan keuntungan.

Semakin cepat harga bergerak, semakin cepat pula kerugian dapat terjadi.

Risiko Investasi Saham Lapis Ketiga

Setelah membahas potensi keuntungannya, bagian yang tidak kalah penting adalah memahami risikonya.

1. Risiko Volatilitas Tinggi

Harga dapat bergerak naik atau turun secara tajam.

Investor yang membeli ketika harga sudah melonjak tinggi berisiko mengalami kerugian besar jika terjadi pembalikan arah.

2. Risiko Likuiditas

Investor bisa saja memiliki saham yang secara teori bernilai cukup besar, tetapi kesulitan menjualnya karena tidak banyak pembeli.

Risiko ini semakin penting jika investor memiliki jumlah saham yang cukup besar.

3. Risiko Fundamental Lemah

Sebagian saham lapis ketiga mungkin berasal dari perusahaan yang masih menghadapi masalah bisnis.

Ada perusahaan yang mengalami kerugian, memiliki utang besar, arus kas kurang sehat, atau prospek bisnis yang belum jelas.

Karena itu, jangan menganggap semua saham murah sebagai peluang.

4. Risiko Spekulasi

Kenaikan harga yang cepat dapat membuat investor tergoda untuk ikut membeli karena takut ketinggalan atau fear of missing out.

Masalahnya, investor yang masuk terlambat bisa membeli pada harga yang sudah terlalu tinggi.

Jika sentimen berubah, harga dapat turun dengan cepat.

5. Risiko Terjebak di Saham Tidak Likuid

Saham yang sepi transaksi dapat membuat investor sulit keluar dari posisi.

Kondisi ini berbeda dengan saham blue chip yang biasanya memiliki banyak pembeli dan penjual.

Karena itu, sebelum membeli saham lapis ketiga, investor perlu melihat volume dan nilai transaksi, bukan hanya grafik kenaikan harga.

Bagaimana Cara Menilai Saham Lapis Ketiga?

Jika tetap tertarik pada saham lapis ketiga, jangan hanya melihat harga dan persentase kenaikannya.

Ada beberapa hal yang dapat diperiksa.

Periksa Laporan Keuangan

Lihat pendapatan, laba, arus kas, aset, dan utang perusahaan.

Jika perusahaan terus mengalami kerugian, investor perlu memahami penyebabnya dan apakah terdapat peluang realistis untuk memperbaiki kondisi tersebut.

Lihat Prospek Bisnis

Cari tahu apa sebenarnya bisnis perusahaan.

Apakah produknya memiliki pasar?

Apakah industrinya masih berkembang?

Apakah perusahaan mempunyai keunggulan dibandingkan pesaing?

Pertanyaan seperti ini lebih penting daripada sekadar melihat harga saham.

Periksa Likuiditas

Perhatikan volume transaksi harian dan nilai transaksi.

Saham dengan volume sangat kecil membutuhkan perhatian ekstra karena investor mungkin kesulitan menjual saham ketika pasar berubah.

Cari Tahu Penyebab Kenaikan Harga

Jika sebuah saham tiba-tiba naik 20%, 30%, bahkan lebih, jangan langsung ikut membeli.

Cari tahu apakah ada berita atau informasi fundamental yang mendasari kenaikan tersebut.

Jika tidak ada alasan yang jelas, investor perlu lebih berhati-hati.

Perhatikan Pengumuman Bursa

Investor juga perlu memantau keterbukaan informasi dan pengumuman resmi.

Jika terdapat aktivitas perdagangan yang tidak biasa, bursa dapat mengeluarkan pengumuman tertentu, termasuk informasi mengenai Unusual Market Activity atau UMA.

UMA bukan berarti perusahaan pasti melakukan pelanggaran atau saham tersebut pasti akan turun. Namun, informasi tersebut dapat menjadi alasan bagi investor untuk melakukan pemeriksaan lebih mendalam sebelum mengambil keputusan.

Apakah Saham Lapis Ketiga Cocok untuk Investor Pemula?

Secara umum, saham lapis ketiga bukan pilihan yang paling sederhana bagi investor yang baru belajar saham.

Masalahnya bukan hanya karena harganya dapat naik dan turun dengan cepat, tetapi juga karena investor harus mampu membedakan antara pertumbuhan fundamental dan pergerakan yang hanya didorong oleh sentimen.

Astronacci menekankan pentingnya kemampuan analisis dan kehati-hatian ketika berhadapan dengan saham third liner.

Investor pemula sebaiknya terlebih dahulu memahami dasar-dasar pasar saham, analisis fundamental, analisis teknikal, manajemen risiko, dan psikologi investasi sebelum mencoba saham dengan volatilitas tinggi.

Jika tetap ingin mempelajarinya, gunakan dana yang sesuai dengan kemampuan menanggung risiko dan jangan menjadikan satu saham lapis ketiga sebagai pusat seluruh portofolio.

Apakah Saham Lapis Ketiga Bisa Menjadi Investasi Jangka Panjang?

Bisa saja, tetapi tidak semua saham lapis ketiga cocok untuk tujuan tersebut.

Jika sebuah perusahaan kecil mempunyai fundamental sehat, bisnis yang berkembang, manajemen yang baik, dan prospek industri yang kuat, perusahaan tersebut berpotensi tumbuh menjadi perusahaan yang lebih besar.

Dalam kondisi seperti itu, saham lapis ketiga dapat memberikan peluang pertumbuhan yang menarik bagi investor jangka panjang.

Sebaliknya, jika perusahaan memiliki fundamental buruk dan tidak mempunyai prospek perbaikan yang jelas, harga saham yang murah bukan alasan yang cukup untuk membelinya.

Jadi, yang perlu dicari bukan sekadar saham lapis ketiga, tetapi perusahaan kecil yang memiliki peluang menjadi perusahaan yang lebih besar.

Jangan Tertipu dengan Harga Saham yang Murah

Salah satu kesalahan yang sering terjadi pada investor pemula adalah menganggap harga saham Rp50 jauh lebih murah daripada saham Rp5.000.

Padahal, harga per lembar saham tidak menunjukkan murah atau mahalnya sebuah perusahaan.

Jumlah saham beredar setiap perusahaan berbeda.

Karena itu, investor harus melihat kapitalisasi pasar dan valuasi.

Saham Rp50 dapat saja sudah mahal jika jumlah saham beredarnya sangat banyak dan kinerja bisnisnya tidak sebanding dengan harga tersebut.

Sebaliknya, saham Rp5.000 dapat saja memiliki valuasi yang masih masuk akal jika fundamental dan prospek bisnisnya mendukung.

Dengan kata lain, harga murah tidak selalu berarti valuasi murah.

Saham Lapis Ketiga dan Strategi Manajemen Risiko

Karena tingkat risikonya lebih tinggi, manajemen risiko menjadi bagian yang sangat penting.

Investor perlu menentukan sejak awal berapa besar dana yang bersedia ditempatkan pada saham dengan volatilitas tinggi.

Jangan menggunakan seluruh modal hanya karena melihat sebuah saham sedang naik.

Selain itu, investor juga perlu memahami bahwa strategi untuk saham lapis ketiga mungkin berbeda dengan strategi investasi pada saham blue chip.

Investor yang berorientasi jangka panjang akan lebih banyak melihat fundamental dan prospek bisnis. Sementara trader jangka pendek mungkin lebih memperhatikan volume, momentum, tren, dan katalis.

Tidak ada satu strategi yang cocok untuk semua orang.

Yang terpenting adalah strategi tersebut sesuai dengan tujuan dan kemampuan investor dalam menghadapi risiko.

Kesimpulan

Mengenal saham lapis ketiga berarti memahami kelompok saham yang umumnya memiliki kapitalisasi pasar kecil dan dalam istilah pasar sering disebut sebagai third liner atau small-cap.

Istilah first liner, second liner, dan third liner bukan merupakan klasifikasi resmi BEI. Pengelompokan tersebut lebih banyak digunakan investor untuk membedakan saham berdasarkan kapitalisasi pasar, likuiditas, dan karakteristik pergerakannya.

Saham lapis ketiga memiliki daya tarik berupa potensi pertumbuhan dan pergerakan harga yang dapat sangat cepat. Dalam kondisi tertentu, saham-saham tersebut bahkan dapat mendominasi daftar top gainers.

Namun, potensi keuntungan yang besar juga diikuti risiko yang besar.

Volatilitas tinggi, likuiditas rendah, fundamental yang beragam, dan risiko spekulasi membuat investor harus lebih berhati-hati ketika berhadapan dengan saham lapis ketiga.

Hal terpenting adalah jangan membeli saham hanya karena harganya murah atau sedang naik tajam.

Periksa fundamental perusahaan, prospek bisnis, laporan keuangan, likuiditas, volume transaksi, serta alasan di balik pergerakan harga.

Pada akhirnya, saham lapis ketiga bukan berarti otomatis buruk, tetapi membutuhkan tingkat kehati-hatian dan analisis yang lebih tinggi. Di antara banyak saham kecil, bisa saja terdapat perusahaan yang sedang berada di tahap awal pertumbuhan dan berpotensi menjadi perusahaan besar di masa depan. Tantangannya adalah menemukan perusahaan tersebut tanpa mengabaikan risiko yang ada.

Perhatian

Artikel ini bersifat edukasi dan bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi memiliki risiko dan sebaiknya disesuaikan dengan kondisi serta profil risiko masing-masing investor. Istilah saham lapis ketiga, third liner, small-cap, dan penny stock dapat memiliki definisi atau batas klasifikasi yang berbeda tergantung sumber dan konteks pasar. Investor sebaiknya melakukan riset secara mandiri, memeriksa informasi resmi perusahaan dan Bursa Efek Indonesia, serta mempertimbangkan profil risiko sebelum mengambil keputusan investasi.

Sumber Referensi: