Apa itu Dividen? Penjelasan lengkap seputar dividen

penjelasan dasar seputar dividen

Pernahkah Anda mendengar cerita tentang orang-orang yang mendapatkan uang secara rutin hanya dari kepemilikan saham mereka? Atau mungkin Anda bertanya-tanya, bagaimana caranya Warren Buffett bisa terus mengumpulkan kekayaan bahkan tanpa menjual saham-sahamnya? Jawabannya terletak pada satu konsep fundamental dalam dunia investasi: dividen.

Dividen adalah salah satu cara paling elegan untuk membangun passive income dan kekayaan jangka panjang. Namun, masih banyak investor pemula yang belum sepenuhnya memahami apa itu dividen, bagaimana cara kerjanya, dan mengapa konsep ini begitu penting dalam strategi investasi jangka panjang. Artikel ini akan membawa Anda menyelami dunia dividen secara komprehensif, mulai dari definisi dasar hingga strategi praktis yang dapat Anda terapkan.

Pengertian Dividen

Secara sederhana, dividen adalah pembagian sebagian keuntungan perusahaan kepada para pemegang saham. Ketika sebuah perusahaan menghasilkan profit, manajemen memiliki beberapa pilihan tentang apa yang akan dilakukan dengan keuntungan tersebut. Salah satu pilihannya adalah membagikan sebagian keuntungan itu kepada para pemilik perusahaan, yaitu pemegang saham.

Bayangkan Anda memiliki sebuah warung kopi bersama tiga teman Anda. Setiap orang memiliki 25% kepemilikan. Di akhir tahun, warung tersebut menghasilkan keuntungan bersih Rp100 juta. Anda semua sepakat untuk membagikan Rp40 juta kepada para pemilik, sementara Rp60 juta sisanya digunakan untuk membeli mesin espresso baru dan renovasi. Nah, Rp40 juta yang dibagikan itu adalah dividen, dan bagian Anda adalah Rp10 juta (25% dari Rp40 juta).

Konsep yang sama berlaku untuk perusahaan publik yang sahamnya diperdagangkan di bursa efek. Bedanya, perusahaan publik bisa memiliki jutaan pemegang saham, dan dividen dibagikan secara proporsional berdasarkan jumlah saham yang dimiliki masing-masing investor.


Mengapa Perusahaan Membagikan Dividen?

Pertanyaan yang sering muncul adalah: mengapa perusahaan mau membagikan uangnya kepada pemegang saham? Bukankah lebih baik kalau semua keuntungan digunakan untuk ekspansi bisnis?

Ada beberapa alasan strategis mengapa perusahaan memilih membagikan dividen:

Pertama, memberikan return kepada investor. Perusahaan yang sudah mapan dan menghasilkan cash flow stabil memiliki komitmen untuk memberikan imbal hasil kepada investor yang telah mempercayakan dana mereka. Dividen menjadi bentuk apresiasi konkret atas kepercayaan tersebut.

Kedua, sinyal kesehatan keuangan. Kemampuan perusahaan untuk membayar dividen secara konsisten menunjukkan bahwa perusahaan tersebut memiliki keuangan yang sehat dan arus kas yang kuat. Ini menjadi sinyal positif bagi pasar bahwa perusahaan tidak sedang mengalami masalah likuiditas.

Ketiga, menarik investor jangka panjang. Dividen yang stabil dan konsisten cenderung menarik investor yang mencari pendapatan pasif dan stabilitas. Investor tipe ini biasanya lebih setia dan tidak mudah menjual saham saat terjadi volatilitas pasar.

Keempat, efisiensi alokasi modal. Untuk perusahaan yang sudah mature dan memiliki pertumbuhan terbatas, menahan semua keuntungan untuk reinvestasi bisa jadi tidak efisien. Lebih baik membagikan kelebihan kas kepada pemegang saham yang bisa menginvestasikannya di tempat lain dengan potensi return lebih tinggi.

Kelima, mengurangi agency problem. Dengan membagikan dividen, perusahaan mengurangi kas yang tersedia untuk dikelola manajemen. Ini mencegah kemungkinan manajemen menggunakan kas secara boros atau untuk kepentingan pribadi.


Jenis-Jenis Dividen yang Perlu Anda Ketahui

Dividen tidak selalu berbentuk uang tunai. Ada beberapa jenis dividen yang perlu Anda pahami:

Dividen Tunai (Cash Dividend)

Ini adalah bentuk dividen yang paling umum dan paling disukai investor. Perusahaan membagikan uang tunai secara langsung ke rekening pemegang saham. Misalnya, jika Anda memiliki 1.000 lembar saham dan perusahaan mengumumkan dividen tunai Rp200 per saham, Anda akan menerima Rp200.000 langsung ke rekening dana investor (RDI) Anda.

Dividen tunai memberikan fleksibilitas maksimal kepada investor karena mereka bisa memilih untuk menggunakan uang tersebut, menabungnya, atau menginvestasikannya kembali sesuai preferensi masing-masing.

Dividen Saham (Stock Dividend)

Alih-alih memberikan uang tunai, perusahaan membagikan saham tambahan kepada pemegang saham. Misalnya, perusahaan mengumumkan dividen saham 10%. Jika Anda memiliki 1.000 saham, Anda akan menerima tambahan 100 saham.

Dividen saham tidak mengubah total nilai kepemilikan Anda secara langsung, tetapi meningkatkan jumlah saham yang Anda miliki. Ini sering dilakukan oleh perusahaan yang ingin menjaga kas untuk ekspansi tetapi tetap ingin memberikan sesuatu kepada pemegang saham.

Dividen Properti

Meskipun jarang terjadi, perusahaan bisa membagikan aset fisik atau properti kepada pemegang saham. Ini lebih umum terjadi pada perusahaan yang memiliki aset bernilai tinggi yang ingin didistribusikan kepada pemegang saham.

Dividen Interim dan Dividen Final

Dividen interim adalah dividen yang dibagikan di tengah periode akuntansi (biasanya sebelum laporan keuangan tahunan selesai), sementara dividen final dibagikan setelah laporan keuangan tahunan diaudit dan disetujui dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).


Cara Kerja Dividen

Untuk benar-benar memahami dividen, Anda perlu mengenal beberapa tanggal krusial dalam proses pembagian dividen. Pemahaman ini akan membantu Anda mengoptimalkan strategi investasi dividen Anda.

Tanggal Pengumuman (Declaration Date)

Ini adalah tanggal ketika perusahaan secara resmi mengumumkan akan membagikan dividen. Dalam pengumuman ini, manajemen menyatakan jumlah dividen per saham, tanggal pencatatan, dan tanggal pembayaran. Pengumuman ini biasanya disampaikan melalui keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia dan media massa.

Tanggal Cum-Dividen

Tanggal cum-dividen adalah hari terakhir di mana investor masih berhak mendapatkan dividen jika membeli saham pada hari tersebut. Jika Anda membeli saham pada tanggal ini atau sebelumnya, Anda akan tercatat sebagai pemegang saham yang berhak menerima dividen.

Tanggal Ex-Dividen

Ini adalah tanggal pertama di mana saham diperdagangkan tanpa hak dividen. Jika Anda membeli saham pada tanggal ex-dividen atau setelahnya, Anda tidak akan mendapatkan dividen periode tersebut. Biasanya, harga saham akan turun sekitar jumlah dividen pada tanggal ex-dividen karena saham tersebut kehilangan nilai dividen yang akan dibagikan.

Contohnya, jika harga saham adalah Rp5.000 pada tanggal cum-dividen dan dividen yang akan dibagikan adalah Rp200 per saham, pada tanggal ex-dividen harga saham cenderung turun menjadi sekitar Rp4.800.

Tanggal Pencatatan (Recording Date)

Pada tanggal ini, perusahaan mencatat siapa saja pemegang saham yang berhak menerima dividen. Hanya investor yang namanya tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal ini yang akan menerima dividen.

Tanggal Pembayaran (Payment Date)

Ini adalah tanggal ketika dividen benar-benar dibayarkan dan masuk ke rekening investor. Biasanya, ada jeda waktu antara tanggal pencatatan dengan tanggal pembayaran, berkisar dari beberapa hari hingga beberapa minggu.


Dividend Yield dan Dividend Payout Ratio

Ketika mengevaluasi saham dividen, ada dua metrik fundamental yang harus Anda pahami:

Dividend Yield (Imbal Hasil Dividen)

Dividend yield adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar return dividen yang Anda dapatkan relatif terhadap harga saham. Formula perhitungannya adalah:

Dividend Yield = (Dividen per Saham / Harga Saham) × 100%

Misalnya, jika sebuah saham membagikan dividen Rp300 per saham dalam setahun dan harga sahamnya saat ini adalah Rp5.000, maka dividend yield-nya adalah (300/5.000) × 100% = 6%.

Dividend yield yang tinggi bisa menarik, tetapi Anda perlu berhati-hati. Yield yang terlalu tinggi (misalnya di atas 10-12%) bisa menjadi red flag yang menunjukkan bahwa harga saham sedang jatuh drastis karena masalah fundamental perusahaan, atau dividen tersebut tidak sustainable dalam jangka panjang.

Sebaliknya, dividend yield yang terlalu rendah (misalnya di bawah 2%) mungkin kurang menarik bagi investor yang mencari passive income, meskipun bisa jadi perusahaan tersebut lebih fokus pada pertumbuhan (growth stock) dibanding membagikan dividen.

Dividend Payout Ratio (Rasio Pembayaran Dividen)

Rasio ini menunjukkan berapa persen dari keuntungan perusahaan yang dibagikan sebagai dividen. Formulanya adalah:

Dividend Payout Ratio = (Total Dividen / Laba Bersih) × 100%

Atau bisa juga dihitung per saham:

Dividend Payout Ratio = (Dividen per Saham / Earning per Saham) × 100%

Misalnya, jika perusahaan memiliki earning per share (EPS) Rp500 dan membagikan dividen Rp200 per saham, maka payout ratio-nya adalah (200/500) × 100% = 40%.

Payout ratio yang ideal bervariasi tergantung industri dan tahap pertumbuhan perusahaan. Umumnya:

  • Payout ratio 30-50% dianggap sehat untuk perusahaan yang sudah mature. Ini menunjukkan keseimbangan antara memberikan return kepada investor dan menahan cukup keuntungan untuk pertumbuhan.

  • Payout ratio di atas 70-80% bisa menjadi warning sign. Perusahaan mungkin membagikan terlalu banyak dan tidak menyisakan cukup untuk reinvestasi atau menghadapi masa sulit.

  • Payout ratio di bawah 20% biasanya menunjukkan perusahaan yang masih dalam fase pertumbuhan agresif dan lebih memilih menginvestasikan kembali sebagian besar keuntungannya.


Keuntungan Berinvestasi pada Saham Dividen

Mengapa investor begitu tertarik dengan saham dividen? Ada beberapa keuntungan signifikan yang ditawarkan:

Passive Income yang Konsisten

Dividen memberikan aliran pendapatan pasif yang relatif stabil. Berbeda dengan capital gain yang hanya Anda dapatkan ketika menjual saham, dividen datang secara reguler tanpa Anda perlu menjual kepemilikan Anda. Ini sangat ideal untuk investor yang ingin membangun sumber pendapatan tambahan atau bahkan menggantikan penghasilan aktif mereka di masa pensiun.

Bayangkan Anda memiliki portfolio saham dividen senilai Rp500 juta dengan average dividend yield 5%. Setiap tahun, Anda akan menerima Rp25 juta tanpa harus menjual satu lembar saham pun. Jika Anda menginvestasikan kembali dividen tersebut (dividend reinvestment), kekayaan Anda akan tumbuh secara eksponensial melalui compounding effect.

Volatilitas yang Lebih Rendah

Saham-saham yang konsisten membagikan dividen cenderung memiliki volatilitas lebih rendah dibanding saham growth yang tidak membagikan dividen. Ini karena dividen memberikan "cushion" atau bantalan saat harga saham turun. Investor lebih nyaman memegang saham tersebut karena masih mendapatkan return dari dividen meskipun harga saham sedang lesu.

Proteksi terhadap Inflasi

Perusahaan yang baik cenderung meningkatkan dividen mereka setiap tahun sejalan dengan pertumbuhan bisnis dan inflasi. Ini memberikan proteksi natural terhadap erosi daya beli. Misalnya, jika dividen Anda naik rata-rata 7% per tahun, sementara inflasi 3-4%, daya beli dividen Anda tetap meningkat secara riil.

Disiplin Keuangan Perusahaan

Perusahaan yang berkomitmen membayar dividen cenderung lebih disiplin dalam mengelola keuangan. Mereka harus memastikan cash flow yang cukup untuk memenuhi kewajiban dividen, yang mendorong efisiensi operasional dan manajemen kas yang lebih baik.

Return Total yang Kompetitif

Studi historis menunjukkan bahwa saham dividen, terutama yang secara konsisten meningkatkan dividennya (dividend aristocrats), sering kali memberikan total return (dividen + capital gain) yang setara atau bahkan lebih tinggi dibanding saham non-dividen dalam jangka panjang.


Risiko dan Pertimbangan Investasi Dividen

Meskipun menarik, investasi dividen bukan tanpa risiko. Berikut beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan:

Dividen Bisa Dipotong atau Dihapus

Dividen bukanlah kewajiban yang mengikat secara hukum seperti bunga obligasi. Perusahaan bisa mengurangi atau bahkan menghapus dividen jika mengalami kesulitan keuangan. Ini sering terjadi saat resesi ekonomi atau ketika perusahaan menghadapi tantangan berat di industrinya.

Contoh nyata terjadi saat pandemi COVID-19 di tahun 2020. Banyak perusahaan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, memotong atau menunda pembayaran dividen untuk menjaga likuiditas dan bertahan menghadapi krisis.

Dividend Trap (Jebakan Dividen)

Ini terjadi ketika saham memiliki dividend yield yang sangat tinggi karena harga sahamnya telah jatuh drastis akibat masalah fundamental. Investor yang tergoda oleh yield tinggi bisa terjebak membeli saham yang terus turun, dan akhirnya dividen tersebut dipotong atau dihapus.

Cara menghindari dividend trap adalah dengan tidak hanya fokus pada yield, tetapi juga menganalisis kesehatan keuangan perusahaan secara menyeluruh, tren pendapatan, level hutang, dan sustainability dari dividen tersebut.

Pertumbuhan yang Lebih Lambat

Saham dividen, terutama dari perusahaan mature, cenderung memiliki pertumbuhan harga yang lebih lambat dibanding saham growth. Jika tujuan Anda adalah capital appreciation yang agresif dalam jangka pendek, saham dividen mungkin bukan pilihan optimal.

Implikasi Pajak

Di Indonesia, dividen dikenakan pajak final sebesar 10% untuk pemegang saham individu. Ini perlu diperhitungkan dalam kalkulasi return Anda. Meskipun demikian, tax rate 10% relatif rendah dan sudah final, artinya Anda tidak perlu melaporkan lagi dalam SPT Tahunan.


Strategi Memilih Saham Dividen Berkualitas

Bagaimana cara memilih saham dividen yang tepat? Berikut adalah framework yang dapat Anda gunakan:

Cari Dividend Aristocrats Indonesia

Dividend aristocrats adalah perusahaan yang secara konsisten membayar dan meningkatkan dividen selama bertahun-tahun. Di Indonesia, carilah perusahaan yang memiliki track record membayar dividen minimal 5-10 tahun berturut-turut dengan tren yang meningkat atau minimal stabil.

Perusahaan seperti ini biasanya berada di sektor yang stabil seperti perbankan (khususnya bank-bank besar seperti BCA, BRI, Mandiri), telekomunikasi (Telkom Indonesia), consumer goods (Unilever Indonesia, Indofood), dan infrastruktur (Jasa Marga).

Evaluasi Fundamental Perusahaan

Jangan hanya terpesona dengan dividend yield tinggi. Analisis fundamental perusahaan secara menyeluruh:

  • Pertumbuhan Pendapatan: Apakah revenue perusahaan tumbuh secara konsisten?
  • Profitabilitas: Bagaimana tren margin keuntungan perusahaan?
  • Arus Kas: Apakah perusahaan menghasilkan free cash flow positif yang cukup untuk mendukung pembayaran dividen?
  • Hutang: Berapa level hutang perusahaan? Debt to equity ratio yang terlalu tinggi bisa mengancam kemampuan membayar dividen.
  • Posisi Kompetitif: Apakah perusahaan memiliki competitive advantage atau moat dalam industrinya?

Diversifikasi Sektor

Jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang. Diversifikasi portfolio dividen Anda di berbagai sektor untuk mengurangi risiko spesifik industri. Kombinasikan saham dari sektor yang berbeda seperti perbankan, consumer goods, telekomunikasi, dan infrastruktur.

Pertimbangkan Dividend Sustainability

Periksa apakah dividen tersebut sustainable dalam jangka panjang. Gunakan dividend payout ratio sebagai panduan. Jika payout ratio sudah mendekati atau melebihi 80%, ada risiko bahwa dividen tidak sustainable, terutama jika profit perusahaan menurun.

Perhatikan Siklus Bisnis

Beberapa sektor bersifat siklikal dan dividennya bisa fluktuatif mengikuti siklus ekonomi. Misalnya, sektor komoditas seperti pertambangan batubara sering memberikan dividen besar saat harga komoditas tinggi, tetapi bisa drastis turun saat harga komoditas jatuh. Sektor defensive seperti consumer staples cenderung lebih stabil.


Dividend Reinvestment Plan (DRIP)

Salah satu strategi paling powerful untuk memaksimalkan pertumbuhan kekayaan melalui dividen adalah Dividend Reinvestment Plan atau DRIP. Konsepnya sederhana: alih-alih menarik dividen yang Anda terima, Anda menggunakannya untuk membeli lebih banyak saham perusahaan yang sama.

Kekuatan Compounding Effect

Mari kita lihat contoh konkret untuk memahami power of compounding:

Skenario A (Tanpa Reinvestment): Anda investasi Rp100 juta di saham dengan dividend yield 5% dan pertumbuhan harga saham 8% per tahun. Anda menarik dividen setiap tahun untuk digunakan.

Setelah 20 tahun:

  • Nilai investasi: Rp466 juta (dari capital gain)
  • Total dividen yang ditarik: Rp100 juta
  • Total wealth: Rp566 juta

Skenario B (Dengan Reinvestment): Kondisi sama, tetapi Anda reinvest semua dividen untuk membeli saham lebih banyak.

Setelah 20 tahun:

  • Total wealth: Rp673 juta

Perbedaan Rp107 juta atau hampir 19% lebih tinggi! Ini adalah kekuatan compounding yang bekerja untuk Anda.

Cara Implementasi DRIP di Indonesia

Di Indonesia, belum banyak perusahaan yang menawarkan program DRIP otomatis seperti di Amerika Serikat. Namun, Anda bisa melakukan manual DRIP dengan cara:

  1. Saat menerima dividen di rekening dana investor, segera gunakan uang tersebut untuk membeli saham perusahaan yang sama atau saham dividen lainnya.
  2. Set target untuk tidak menarik dividen setidaknya selama 5-10 tahun pertama, biarkan compounding bekerja.
  3. Catat setiap pembelian tambahan untuk tracking portfolio Anda.


Membangun Portfolio Dividen

Sekarang mari kita bicara tentang bagaimana membangun portfolio dividen dari nol:

Langkah 1: Tentukan Tujuan dan Time Horizon

Apakah tujuan Anda membangun passive income untuk pensiun 20 tahun lagi, atau Anda ingin mulai mendapatkan cashflow dalam 3-5 tahun? Time horizon akan mempengaruhi strategi Anda. Jika jangka panjang, Anda bisa lebih fokus pada reinvestment dan pertumbuhan. Jika jangka pendek, Anda mungkin perlu yield yang lebih tinggi.

Langkah 2: Alokasikan Modal Awal

Idealnya, mulailah dengan minimal Rp10-20 juta untuk bisa mendiversifikasi dengan baik. Dengan jumlah ini, Anda bisa membeli 5-8 saham dividen dari berbagai sektor.

Langkah 3: Riset dan Seleksi Saham

Gunakan screener saham untuk mencari perusahaan dengan kriteria:

  • Dividend yield 3-7%
  • Payout ratio di bawah 70%
  • Track record membayar dividen minimal 5 tahun
  • ROE di atas 12%
  • Debt to equity ratio di bawah 1x

Langkah 4: Eksekusi Pembelian Bertahap

Jangan masuk semua sekaligus. Gunakan strategi dollar-cost averaging dengan membeli secara bertahap selama 3-6 bulan. Ini mengurangi risiko membeli di harga puncak.

Langkah 5: Monitor dan Review Rutin

Lakukan review portfolio setiap kuartal. Perhatikan:

  • Apakah perusahaan masih membayar dividen?
  • Apakah fundamental masih kuat?
  • Apakah ada perkembangan negatif yang perlu diwaspadai?

Langkah 6: Rebalancing Berkala

Setiap 6-12 bulan, lakukan rebalancing. Kurangi posisi di saham yang sudah overweight atau fundamentalnya memburuk, tambah di saham yang masih menarik.


Kesalahan Umum Investor Dividen Pemula

Belajar dari kesalahan orang lain lebih murah daripada belajar dari kesalahan sendiri. Berikut adalah kesalahan umum yang harus Anda hindari:

Mengejar Yield Tertinggi

Ini adalah kesalahan klasik. Dividend yield 12% memang terlihat sangat menarik, tetapi sering kali yield setinggi itu tidak sustainable atau perusahaannya sedang bermasalah. Fokus pada kualitas, bukan hanya yield.

Tidak Diversifikasi

Menaruh semua uang di satu atau dua saham dividen sangat berisiko. Jika perusahaan tersebut memotong dividen atau mengalami masalah, portfolio Anda langsung terpukul keras.

Mengabaikan Pajak

Lupa memperhitungkan pajak dividen 10% dalam kalkulasi return. Selalu hitung net return setelah pajak untuk mendapatkan gambaran akurat.

Tidak Mempertimbangkan Inflasi

Dividend yield 4% terlihat bagus, tetapi jika inflasi 5%, daya beli Anda berkurang. Pilih perusahaan yang konsisten menaikkan dividen untuk proteksi inflasi.

Terlalu Sering Trading

Saham dividen adalah investasi jangka panjang. Terlalu sering membeli-jual justru mengikis return Anda karena biaya transaksi dan pajak. Belilah untuk ditahan bertahun-tahun.


Masa Depan Investasi Dividen

Apakah investasi dividen masih relevan di era teknologi dan startup unicorn? Jawabannya: sangat relevan.

Memang benar bahwa saham teknologi growth seperti Amazon atau Tesla tidak membagikan dividen, dan return mereka sangat fantastis. Namun, tidak semua investor memiliki risk appetite untuk volatilitas ekstrem saham growth. Dividen menawarkan keseimbangan antara return dan stabilitas yang cocok untuk mayoritas investor.

Lebih jauh lagi, seiring bertambahnya usia dan mendekati masa pensiun, preferensi investor natural bergeser dari growth ke income. Portfolio dividen yang sudah dibangun selama 20-30 tahun bisa menghasilkan passive income yang cukup untuk mendanai masa pensiun tanpa harus menjual aset.

Tren global juga menunjukkan bahwa semakin banyak investor institusional dan retail yang mengalokasikan sebagian portfolio mereka ke dividend-paying stocks karena stabilitas dan prediktabilitas return-nya.

Kesimpulannya,

Dividen adalah salah satu cara paling time-tested untuk membangun kekayaan jangka panjang. Bukan skema cepat kaya, tetapi strategi solid yang telah membantu jutaan investor di seluruh dunia mencapai kebebasan finansial.

Kunci sukses investasi dividen terletak pada kesabaran, konsistensi, dan disiplin. Mulailah dengan modal yang Anda miliki, fokus pada perusahaan berkualitas dengan track record dividen yang baik, reinvest dividen Anda untuk memaksimalkan compounding, dan biarkan waktu bekerja untuk Anda.

Ingatlah bahwa setiap dividen yang Anda terima adalah bukti nyata bahwa Anda adalah pemilik dari perusahaan yang menghasilkan profit dan berbagi kesuksesan itu dengan Anda. Dengan strategi yang tepat, portfolio dividen Anda bisa menjadi mesin penghasil passive income yang bekerja untuk Anda 24/7, bahkan saat Anda tidur.

Mulailah hari ini. Tidak perlu menunggu memiliki banyak uang. Mulai dengan satu saham dividen berkualitas, pelajari prosesnya, rasakan sensasi menerima dividen pertama Anda, dan terus bangun dari sana. Masa depan finansial yang lebih cerah menanti Anda di ujung perjalanan investasi dividen ini.