6 Alasan kenapa saham murah belum tentu menguntungkan



Dalam dunia investasi saham, istilah “saham murah” sering terdengar menggoda. Banyak investor beranggapan bahwa harga saham yang rendah adalah peluang emas untuk meraih keuntungan besar di masa depan. Logikanya sederhana beli murah, lalu tunggu harga naik. Sayangnya, pasar modal tidak bekerja sesederhana itu. Terlebih memasuki tahun 2026, ketika dinamika pasar semakin cepat, seleksi investor semakin ketat, dan modal besar hanya mengalir ke perusahaan yang benar-benar berkualitas.

Faktanya, saham murah justru sering menjadi sumber kerugian bagi investor yang kurang waspada. Banyak saham terlihat murah secara harga maupun valuasi, tetapi tidak pernah memberikan imbal hasil yang diharapkan. Kondisi ini dikenal sebagai Value Trap atau jebakan nilai di mana saham tampak menarik di permukaan, namun menyimpan risiko besar di baliknya.

Berikut enam alasan utama mengapa saham murah belum tentu menguntungkan, khususnya bagi investor pemula di era pasar modal.

1. Masalah Fundamental yang Serius

Harga saham yang jatuh dan bertahan di level rendah sering kali mencerminkan kondisi fundamental perusahaan yang bermasalah. Pasar bukan sekadar menurunkan harga tanpa alasan; penurunan tersebut biasanya merupakan respons terhadap kinerja keuangan yang memburuk atau prospek bisnis yang suram. Perusahaan dengan penjualan yang menurun, laba yang tergerus, utang tinggi, atau arus kas negatif cenderung kehilangan kepercayaan investor. Dalam situasi seperti ini, saham bisa terlihat murah, tetapi sebenarnya mencerminkan risiko besar yang sedang dihadapi perusahaan.

Banyak investor terjebak pada rasio valuasi rendah seperti PER kecil atau PBV di bawah satu, lalu menganggap saham tersebut sedang “diskon besar”. Padahal, valuasi rendah sering kali muncul karena pasar memperkirakan laba perusahaan tidak akan tumbuh, bahkan berpotensi menurun. Artinya, saham tersebut murah bukan karena peluang, melainkan karena ekspektasi masa depan yang negatif. Tanpa perbaikan fundamental yang nyata, harga saham seperti ini bisa tetap rendah atau terus tertekan dalam jangka panjang.


2. Jebakan Nilai (Value Trap)

Value trap adalah kondisi ketika saham tampak murah secara valuasi, tetapi tidak pernah mengalami kenaikan harga yang signifikan. Saham jenis ini biasanya tidak memiliki katalis pertumbuhan yang kuat. Bisnisnya berjalan stagnan, tidak ada ekspansi berarti, inovasi minim, dan laba sulit berkembang. Akibatnya, meskipun valuasi terlihat rendah, pasar tidak memiliki alasan untuk menghargai saham tersebut lebih tinggi.

Investor sering terjebak secara psikologis dengan berpikir bahwa saham yang sudah turun jauh “pasti” akan naik kembali. Padahal, pasar saham tidak memiliki kewajiban untuk mengembalikan harga ke level sebelumnya. Tanpa perubahan fundamental atau strategi bisnis yang jelas, saham tersebut bisa tetap murah bertahun-tahun. Banyak contoh saham yang terlihat undervalued, namun justru menjadi aset mati yang tidak menghasilkan capital gain maupun dividen yang layak.


3. Risiko Likuiditas dan Delisting

Saham murah, terutama yang berada di level harga sangat rendah seperti saham gocap, sering kali memiliki masalah likuiditas. Volume transaksi yang kecil membuat saham tersebut sulit diperjualbelikan dalam jumlah besar. Investor mungkin bisa membeli dengan mudah, tetapi menghadapi kesulitan besar saat ingin menjual kembali, terutama ketika pasar sedang lesu. Kondisi ini dapat memaksa investor menjual di harga yang lebih rendah atau menunggu tanpa kepastian.

Risiko yang lebih ekstrem adalah delisting, yaitu penghapusan saham dari bursa. Perusahaan dengan kinerja yang terus memburuk, laporan keuangan bermasalah, atau pelanggaran aturan bursa berpotensi dikeluarkan dari perdagangan. Jika delisting terjadi, nilai saham bisa anjlok drastis dan menjadi sangat sulit dicairkan. Dalam banyak kasus, investor kehilangan sebagian besar bahkan seluruh modalnya. Inilah alasan mengapa saham murah tidak selalu aman, justru sering menyimpan risiko struktural yang besar.


4. Industri yang Sedang Terdisrupsi

Tidak semua saham murah berasal dari perusahaan yang sementara tertekan. Banyak di antaranya justru berada dalam industri yang sedang mengalami penurunan struktural akibat perubahan teknologi dan perilaku konsumen. Ketika sebuah industri kehilangan relevansi, perusahaan di dalamnya akan kesulitan bertumbuh, meskipun harga sahamnya terlihat murah. Dalam kasus seperti ini, harga rendah bukanlah peluang, melainkan refleksi dari nilai bisnis yang terus menyusut.

Investor sering keliru dengan membandingkan harga saham saat ini dengan harga puncaknya di masa lalu, lalu menyimpulkan bahwa saham tersebut “sudah jatuh terlalu dalam”. Padahal, jika model bisnisnya tidak lagi kompetitif, maka harga saham yang rendah justru masuk akal. Tanpa kemampuan beradaptasi, perusahaan dalam industri yang terdisrupsi akan sulit bangkit, dan sahamnya cenderung tetap tertekan dalam jangka panjang.


5. Sentimen Pasar dan Aliran Dana

Di tahun 2026, pergerakan saham semakin dipengaruhi oleh sentimen global, aliran dana asing, dan narasi pertumbuhan. Saham murah yang tidak memiliki cerita positif, prospek ekspansi, atau dukungan investor besar sering kali diabaikan pasar. Meskipun secara valuasi terlihat menarik, ketiadaan minat beli membuat harga saham sulit bergerak naik.

Sebaliknya, saham dengan valuasi mahal tetapi memiliki pertumbuhan laba yang jelas, sektor yang prospektif, dan momentum kuat justru bisa terus mencetak kenaikan harga. Fenomena ini menunjukkan bahwa pasar tidak semata-mata mencari saham murah, melainkan saham dengan masa depan yang menjanjikan. Dalam kondisi seperti ini, membeli saham murah tanpa memperhatikan sentimen dan aliran dana bisa membuat investor kehilangan peluang di saham berkualitas.


6. Masalah Tata Kelola Perusahaan (Corporate Governance)

Salah satu alasan utama saham dihargai murah adalah rendahnya kepercayaan pasar terhadap manajemen perusahaan. Masalah tata kelola seperti laporan keuangan yang tidak transparan, konflik kepentingan pemilik, kasus hukum, atau kebijakan yang merugikan pemegang saham publik membuat investor enggan masuk. Pasar cenderung memberikan “diskon permanen” pada perusahaan dengan reputasi tata kelola yang buruk.

Dalam jangka panjang, masalah governance hampir selalu berdampak negatif terhadap kinerja saham. Meski harga terlihat murah, risiko yang tersembunyi sering kali jauh lebih besar daripada potensi keuntungannya. Investor yang mengabaikan faktor ini berisiko terjebak dalam saham yang tidak pernah benar-benar pulih karena kepercayaan pasar sudah terlanjur hilang.


Saran bagi Investor di Tahun 2026

Bagi investor, khususnya di tahun 2026, penting untuk mengubah cara pandang terhadap saham murah. Harga rendah seharusnya menjadi pertimbangan terakhir, bukan alasan utama untuk membeli. Fokuslah pada kualitas bisnis, pertumbuhan laba yang berkelanjutan, dan prospek jangka panjang perusahaan. Selalu periksa laporan keuangan terbaru melalui Bursa Efek Indonesia, perhatikan arus kas, struktur utang, serta arah strategi manajemen.

Saham yang baik bukanlah saham yang paling murah, melainkan saham yang memiliki masa depan. Dalam banyak kasus, membeli saham berkualitas di harga wajar jauh lebih menguntungkan daripada mengejar saham murah yang penuh ketidakpastian.

Kesimpulanya, saham murah memang terlihat menarik, tetapi sering kali menyimpan risiko yang tidak terlihat di permukaan. Tanpa fundamental kuat, katalis pertumbuhan, tata kelola yang baik, dan dukungan pasar, saham murah bisa menjadi jebakan yang menguras waktu dan modal investor.

Pada akhirnya, investasi saham bukan tentang mencari harga terendah, melainkan tentang menemukan perusahaan terbaik dengan prospek paling menjanjikan. Ingat, Lebih baik memiliki saham bagus di harga wajar, daripada memiliki saham murah yang tidak pernah memberi hasil.