Apa Itu Dividen? Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Cara Mendapatkannya

Siapa yang tidak ingin memiliki sumber penghasilan yang mengalir secara otomatis, bahkan saat kamu sedang tidur? Konsep "uang bekerja untuk kamu" bukan lagi sekadar slogan motivasi. Dalam dunia investasi, ada satu instrumen yang benar-benar bisa mewujudkan hal itu, yaitu dividen.

Dividen adalah salah satu cara paling nyata untuk mendapatkan penghasilan pasif dari kepemilikan saham. Berbeda dengan capital gain yang mengharuskan kamu menjual saham terlebih dahulu untuk merealisasikan keuntungan, dividen memberikan pendapatan langsung ke rekeningmu tanpa kamu perlu melepas satu pun lembar saham yang kamu miliki.

Namun, meskipun konsepnya cukup populer di telinga, masih banyak pemula yang belum benar-benar memahami bagaimana dividen bekerja. Apa syaratnya? Bagaimana cara mendapatkannya? Berapa banyak yang bisa diterima? Dan saham seperti apa yang sebaiknya dipilih?

Artikel ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan tersebut secara lengkap, jelas, dan mudah dipahami, bahkan oleh kamu yang baru pertama kali mendengar kata dividen sekalipun. Mari kita mulai perjalanan belajar ini bersama.

Apa Itu Dividen?

A. Pengertian Dividen

Secara sederhana, dividen adalah bagian dari laba bersih yang dihasilkan sebuah perusahaan, lalu dibagikan kepada para pemegang sahamnya. Besaran dividen yang diterima setiap investor ditentukan oleh jumlah lembar saham yang mereka miliki.

Anggap saja kamu adalah salah satu pemilik sebuah toko roti yang sukses. Setiap akhir tahun, toko roti itu meraih keuntungan. Sebagai pemilik, kamu berhak mendapatkan bagian dari keuntungan tersebut sesuai porsi kepemilikanmu. Itulah esensi dari dividen dalam konteks investasi saham.

“Dividen adalah hak para pemegang saham atas laba yang berhasil diraih oleh perusahaan, diberikan sesuai dengan jumlah saham yang dimilik.”

B. Sumber Dividen

Dividen bersumber dari laba bersih (net profit) perusahaan setelah dikurangi pajak dan kebutuhan operasional lainnya. Tidak semua laba bersih dibagikan sebagai dividen. Manajemen perusahaan dan dewan komisaris akan menetapkan berapa persen dari laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham dan berapa persen yang akan ditahan sebagai cadangan untuk kebutuhan ekspansi bisnis.

Rasio ini dikenal sebagai Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu persentase dari laba bersih yang dialokasikan menjadi dividen. Semakin tinggi DPR, semakin banyak keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham dalam jangka pendek.

C. Tujuan Pembagian Dividen

Mengapa perusahaan mau membagi keuntungannya kepada investor? Ada beberapa alasan strategis di balik keputusan ini:

      Memberikan imbal hasil yang nyata kepada investor sebagai bentuk penghargaan atas kepercayaan mereka menanamkan modal

      Menunjukkan kesehatan keuangan perusahaan kepada publik dan pasar modal, karena hanya perusahaan yang benar-benar menghasilkan laba yang mampu membagikan dividen secara konsisten

      Menjaga kepercayaan dan loyalitas investor jangka panjang agar tetap memegang saham perusahaan

      Meningkatkan reputasi perusahaan di mata investor institusional dan analis pasar

Jenis-Jenis Dividen

Dividen tidak hanya hadir dalam satu bentuk saja. Ada beberapa jenis dividen yang perlu kamu kenali agar bisa memahami laporan perusahaan dengan lebih baik:

Jenis Dividen

Penjelasan

Cocok Untuk

Dividen Tunai

Pembayaran langsung berupa uang ke rekening investor

Investor yang butuh cash flow rutin

Dividen Saham

Diberikan dalam bentuk tambahan lembar saham baru

Investor yang ingin menambah porsi kepemilikan

Dividen Interim

Dibagikan sebelum tutup buku tahunan, berdasarkan laba sementara

Perusahaan dengan laba stabil sepanjang tahun

Dividen Final

Dibagikan setelah RUPS mengesahkan laporan keuangan tahunan

Investor yang sabar menunggu keputusan resmi

A. Dividen Tunai (Cash Dividend)

Ini adalah jenis dividen yang paling umum dan paling banyak dikenal. Perusahaan membayarkan dividen dalam bentuk uang tunai yang langsung ditransfer ke rekening efek atau rekening dana nasabah (RDN) milik investor. Dividen tunai sangat disukai oleh investor yang mencari arus kas rutin, seperti pensiunan atau mereka yang ingin menggunakan dividen sebagai pendapatan bulanan tambahan.

B. Dividen Saham (Stock Dividend)

Alih-alih membayar tunai, perusahaan memberikan dividen dalam bentuk lembar saham tambahan. Misalnya, untuk setiap 10 saham yang kamu miliki, kamu mendapat 1 saham baru secara gratis. Jenis dividen ini biasanya dipilih oleh perusahaan yang ingin mempertahankan kas untuk keperluan operasional atau ekspansi, sambil tetap memberikan "hadiah" kepada pemegang sahamnya.

Dividen saham cocok bagi investor jangka panjang yang lebih senang memperbesar porsi kepemilikannya dibanding menerima uang tunai.

C. Dividen Interim

Dividen interim adalah dividen yang dibagikan sebelum akhir tahun buku perusahaan. Artinya, perusahaan tidak menunggu tutup buku tahunan untuk membagikan sebagian keuntungannya. Biasanya dividen interim diumumkan ketika perusahaan sudah memiliki laba yang cukup signifikan di tengah tahun berjalan.

D. Dividen Final

Dividen final adalah dividen yang dibagikan setelah Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) mengesahkan laporan keuangan tahunan perusahaan. Ini adalah jenis dividen yang paling umum terjadi di pasar modal Indonesia, di mana sebagian besar perusahaan membagikan dividen satu kali per tahun setelah RUPS tahunan.

Cara Kerja Dividen Saham

A. Proses Pembagian Dividen

Proses pembagian dividen mengikuti serangkaian tahapan yang sudah diatur secara resmi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Memahami tahapan ini sangat penting agar kamu tidak melewatkan momen penting yang menentukan apakah kamu berhak menerima dividen atau tidak.

Tahapan

Istilah

Penjelasan

1

Pengumuman Dividen

Perusahaan mengumumkan besaran dividen setelah RUPS disetujui

2

Cum Date

Batas terakhir investor berhak mendapatkan dividen. Wajib pegang saham di hari ini.

3

Ex Date

Hari setelah cum date. Investor yang baru beli di sini tidak dapat dividen.

4

Recording Date

Perusahaan mencatat siapa saja pemegang saham yang berhak menerima dividen.

5

Payment Date

Dividen dibayarkan ke rekening investor. Biasanya ~3 minggu setelah ex date.

B. Cum Date dan Ex Date

Di antara semua tahapan di atas, cum date dan ex date adalah dua tanggal yang paling krusial untuk diingat oleh setiap investor dividen.

Cum Date (Cumulative Date) adalah tanggal terakhir di mana kamu masih berhak mendapatkan dividen. Jika kamu membeli atau sudah memegang saham pada hari ini, nama kamu akan tercatat sebagai penerima dividen. Satu hal penting yang perlu diingat: kamu tidak harus memegang saham sampai hari pembayaran. Cukup miliki saham pada hari cum date, maka hakmu atas dividen sudah terkunci.

Ex Date (Expired Date) adalah hari perdagangan tepat setelah cum date, biasanya keesokan harinya. Investor yang baru membeli saham pada ex date atau setelahnya tidak akan mendapatkan dividen, meskipun mereka memegang saham tersebut saat pembayaran tiba. Seringkali pada ex date, harga saham akan turun sejumlah nilai dividen yang dibagikan, karena hak atas dividen sudah tidak melekat pada saham tersebut lagi.

Cara Mendapatkan Dividen

Mendapatkan dividen sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan. Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:

Langkah 1: Buka Rekening Efek di Sekuritas Terdaftar OJK

Sebelum bisa berinvestasi saham dan menerima dividen, kamu perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Proses pembukaan rekening kini bisa dilakukan sepenuhnya secara online melalui berbagai aplikasi sekuritas.

Langkah 2: Pilih Saham Perusahaan yang Rutin Membagikan Dividen

Tidak semua perusahaan membagikan dividen. Pilih perusahaan dengan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten selama beberapa tahun berturut-turut. Informasi ini bisa ditemukan di prospektus, laporan tahunan, atau melalui fitur screener di aplikasi investasi yang kamu gunakan.

Langkah 3: Beli Saham Sebelum atau Pada Hari Cum Date

Pastikan kamu sudah memiliki saham perusahaan tersebut sebelum atau tepat pada hari cum date yang telah diumumkan. Pembelian yang dilakukan setelah cum date tidak akan memberikan hak dividen untuk periode tersebut.

Langkah 4: Tunggu Payment Date

Setelah melewati cum date, kamu tidak perlu melakukan apa-apa lagi. Perusahaan akan otomatis mencatat namamu sebagai penerima dividen dan mentransfer pembayaran pada tanggal yang telah ditetapkan, biasanya dalam waktu tiga hingga empat minggu setelah ex date.

Apa Itu Dividend Yield?

A. Pengertian Dividend Yield

Dividend yield adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar dividen yang kamu terima dibandingkan harga saham yang kamu beli. Ini adalah salah satu metrik terpenting yang digunakan investor untuk membandingkan daya tarik saham dividen satu dengan yang lain.

B. Rumus Dividend Yield

Dividend Yield = (Dividen per Saham / Harga Saham) x 100%

Sebagai contoh: Jika sebuah perusahaan membagikan dividen sebesar Rp200 per lembar saham, dan harga saham saat ini adalah Rp4.000 per lembar, maka:

Dividend Yield = (Rp200 / Rp4.000) x 100% = 5%

Artinya, setiap Rp100 yang kamu investasikan di saham tersebut, kamu mendapatkan Rp5 dalam bentuk dividen per tahun.

C. Cara Membaca Dividend Yield

Secara umum, dividend yield di atas 3% sudah dianggap cukup menarik, terutama jika dibandingkan dengan bunga deposito bank. Namun, yield yang sangat tinggi (misalnya di atas 10-15%) justru perlu diwaspadai karena bisa jadi cerminan dari harga saham yang sedang jatuh, bukan indikator perusahaan yang sangat dermawan.

      Yield 2–4%: Wajar untuk perusahaan blue chip yang stabil

      Yield 4–8%: Menarik, terutama jika konsisten dan fundamental kuat

      Yield >10%: Perlu diperiksa lebih dalam, apakah ini karena harga saham anjlok?

Keuntungan Investasi Dividen

Mengapa banyak investor menyukai strategi investasi berbasis dividen? Berikut adalah empat alasan utamanya:

A. Sumber Penghasilan Pasif yang Konsisten

Dividen memberikan arus kas reguler tanpa mengharuskan kamu menjual aset. Bagi investor yang sudah membangun portofolio saham dividen yang cukup besar, penghasilan dari dividen bisa menjadi sumber pendapatan tambahan yang signifikan bahkan bisa menjadi pengganti gaji bulanan dalam jangka panjang.

B. Cocok untuk Strategi Jangka Panjang

Saham perusahaan yang secara konsisten membagikan dividen cenderung merupakan perusahaan yang sudah mapan, memiliki arus kas yang stabil, dan dikelola dengan disiplin finansial yang baik. Karakteristik ini menjadikan saham dividen lebih tahan terhadap fluktuasi pasar jangka pendek.

C. Risiko Portofolio yang Lebih Stabil

Perusahaan yang mampu membagikan dividen secara rutin biasanya memiliki model bisnis yang sudah teruji dan arus kas yang dapat diprediksi. Ini membuat saham dividen cenderung lebih defensif saat pasar sedang bergejolak, sehingga portofoliomu tidak terlalu rentan terhadap volatilitas ekstrem.

D. Kekuatan Compounding Melalui Reinvestasi

Salah satu strategi paling powerful dalam investasi dividen adalah reinvestasi, yaitu menggunakan dividen yang kamu terima untuk membeli lebih banyak saham dari perusahaan yang sama. Seiring waktu, jumlah saham yang kamu miliki terus bertambah, yang berarti dividen yang kamu terima juga semakin besar. Efek bunga-berbunga ini bisa menghasilkan pertumbuhan aset yang luar biasa dalam jangka panjang.

Kekurangan dan Risiko Dividen

Tentu saja, tidak ada instrumen investasi yang sempurna. Investasi dividen juga memiliki keterbatasan yang perlu kamu pertimbangkan:

A. Tidak Semua Perusahaan Membagikan Dividen

Banyak perusahaan, terutama yang masih dalam fase pertumbuhan agresif, memilih untuk menahan seluruh labanya untuk diinvestasikan kembali ke dalam bisnis. Ini berarti pilihan saham dividen di pasar akan lebih terbatas, dan kamu perlu melakukan seleksi yang lebih ketat.

B. Nilai Dividen Bisa Berubah Sewaktu-waktu

Dividen bukanlah kewajiban tetap seperti bunga obligasi. Jika perusahaan mengalami penurunan laba, menghadapi kondisi ekonomi yang sulit, atau membutuhkan dana untuk ekspansi besar, mereka bisa saja memangkas atau bahkan menghentikan pembagian dividen. Tidak ada jaminan bahwa dividen tahun ini akan sama dengan tahun depan.

C. Pajak Dividen

Di Indonesia, dividen yang diterima oleh investor individu dikenakan pajak penghasilan (PPh) sebesar 10% yang bersifat final. Artinya, dari setiap Rp100 dividen yang seharusnya kamu terima, Rp10 akan dipotong terlebih dahulu sebagai pajak sebelum masuk ke rekeningmu. Ini adalah faktor yang perlu diperhitungkan dalam kalkulasi return bersih investasi dividen.

Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Dividen

Besaran dividen yang dibagikan setiap tahun tidak ditentukan sembarangan. Ada beberapa faktor kunci yang mempengaruhi keputusan manajemen perusahaan:

A. Laba Bersih Perusahaan

Ini adalah faktor paling fundamental. Semakin besar laba bersih yang berhasil diraih perusahaan dalam suatu periode, semakin besar pula potensi dividen yang bisa dibagikan. Perusahaan yang merugi hampir pasti tidak akan membagikan dividen.

B. Kebijakan Manajemen dan Dewan Komisaris

Setiap perusahaan memiliki kebijakan dividen yang berbeda, ditetapkan oleh manajemen dan disetujui dalam RUPS. Ada perusahaan yang berkomitmen membagikan minimal 30% dari laba bersih sebagai dividen, ada yang lebih besar, dan ada yang tidak memiliki komitmen tetap sama sekali.

C. Kondisi Ekonomi Makro

Resesi, krisis keuangan, atau perubahan kebijakan suku bunga bank sentral dapat mempengaruhi keputusan pembagian dividen. Saat ekonomi sedang lesu, banyak perusahaan memilih untuk menahan kas sebagai penyangga, alih-alih membagikannya kepada pemegang saham.

D. Kebutuhan Dana untuk Ekspansi

Perusahaan yang sedang agresif melakukan ekspansi, seperti membangun pabrik baru, mengakuisisi perusahaan lain, atau memasuki pasar baru, biasanya akan menahan lebih banyak laba untuk mendanai pertumbuhannya. Hal ini wajar dan justru bisa menjadi sinyal positif tentang prospek bisnis jangka panjang perusahaan tersebut.

Contoh Perhitungan Dividen

Mari kita lihat bagaimana cara menghitung dividen yang akan kamu terima dengan contoh konkret yang mudah dipahami:

Contoh 1: Perhitungan Dasar

Skenario: Kamu memiliki 1.000 lembar saham perusahaan XYZ. Perusahaan mengumumkan dividen tunai sebesar Rp100 per lembar saham.

Total Dividen Bruto: 1.000 lembar x Rp100 = Rp100.000

Pajak (10%): Rp100.000 x 10% = Rp10.000

Dividen Bersih yang Diterima: Rp100.000 - Rp10.000 = Rp90.000

Contoh 2: Perhitungan Menggunakan DPR

Skenario: Perusahaan ABCD memiliki 10 juta lembar saham beredar. Laba bersih tahun ini Rp2 miliar. Dividend Payout Ratio (DPR) ditetapkan 50%.

Total Dividen yang Dibagikan: Rp2.000.000.000 x 50% = Rp1.000.000.000

Dividen per Lembar Saham: Rp1.000.000.000 / 10.000.000 lembar = Rp100 per lembar

Jika kamu memiliki 500 lembar saham ABCD, dividen bruto yang kamu terima adalah 500 x Rp100 = Rp50.000, dan setelah dipotong pajak 10% menjadi Rp45.000.

Strategi Investasi Dividen

Ada beberapa pendekatan strategi yang bisa kamu terapkan jika ingin fokus pada investasi berbasis dividen:

A. Dividend Investing (Fokus pada Yield)

Strategi ini berfokus pada memilih saham-saham yang konsisten membagikan dividen dengan yield yang menarik. Investor yang menggunakan pendekatan ini biasanya tertarik pada arus kas dividen jangka pendek hingga menengah. Kuncinya adalah memastikan perusahaan yang dipilih memiliki fundamental yang kuat, bukan sekadar yield tinggi.

B. Dividend Growth Investing

Berbeda dengan strategi pertama, dividend growth investing tidak hanya memperhatikan besarnya yield saat ini, melainkan juga tren pertumbuhan dividen dari tahun ke tahun. Perusahaan yang mampu meningkatkan dividen secara konsisten setiap tahun adalah perusahaan yang laba bisnisnya terus tumbuh. Dalam jangka panjang, strategi ini bisa menghasilkan yield yang sangat tinggi terhadap harga beli awal kamu.

C. Reinvestasi Dividen untuk Compounding

Strategi reinvestasi adalah cara paling sederhana namun sangat efektif untuk mempercepat pertumbuhan aset. Setiap kali menerima dividen, alih-alih menariknya sebagai penghasilan, gunakan uang tersebut untuk membeli lebih banyak saham yang sama. Seiring berjalannya waktu, jumlah saham yang kamu miliki akan terus bertumbuh, dan dividen yang kamu terima juga akan semakin besar secara eksponensial.

Bayangkan bola salju yang menggelinding menuruni bukit. Semakin jauh menggelinding, semakin besar bola itu. Itulah kekuatan reinvestasi dividen dalam jangka panjang.”

Tips Memilih Saham Dividen yang Baik

Tidak semua saham yang membagikan dividen layak untuk diinvestasikan. Berikut empat tips praktis untuk memilih saham dividen yang berkualitas:

1.    Pilih perusahaan dengan bisnis yang stabil dan sudah terbukti menghasilkan laba secara konsisten selama minimal 5 tahun berturut-turut. Perusahaan di sektor seperti perbankan, infrastruktur, utilitas, dan kebutuhan pokok umumnya memiliki karakteristik ini.

2.    Periksa histori pembagian dividen setidaknya 5 tahun ke belakang. Apakah perusahaan pernah memotong atau menghentikan dividen? Konsistensi adalah tanda kepercayaan yang penting bagi investor dividen.

3.    Perhatikan dividend yield, namun jangan menjadikannya satu-satunya pertimbangan. Yield yang konsisten di kisaran 3-8% dengan fundamental yang kuat jauh lebih berharga daripada yield 15% yang datang dari perusahaan yang sedang menghadapi masalah keuangan.

4.    Jangan tergiur yield yang terlalu tinggi tanpa analisis mendalam. Yield ekstrem sering kali merupakan tanda bahwa harga saham sedang jatuh karena masalah fundamental, bukan karena perusahaan sangat dermawan. Selalu periksa alasan di balik yield yang tidak wajar.

Kesalahan Umum tentang Dividen

Banyak investor pemula membuat kesalahan yang sebenarnya bisa dihindari. Berikut empat yang paling sering terjadi:

Kesalahan 1: Mengira Dividen Pasti Selalu Menguntungkan

Dividen memang menarik, tapi bukan berarti bebas risiko. Jika harga saham turun lebih besar dari nilai dividen yang diterima, secara total kamu tetap merugi. Selalu hitung return total yang mencakup capital gain atau capital loss, bukan hanya dividen saja.

Kesalahan 2: Hanya Fokus pada Yield Tinggi

Mengejar yield setinggi-tingginya tanpa memperhatikan kondisi perusahaan adalah jebakan yang sering dialami pemula. Yield yang sangat tinggi bisa menjadi sinyal bahaya, bukan kesempatan emas. Selalu tanya: mengapa yield-nya bisa setinggi ini?

Kesalahan 3: Mengabaikan Fundamental Perusahaan

Dividen hanyalah output dari bisnis yang sehat. Jika fundamental perusahaan lemah, seperti utang tinggi, laba yang menurun, atau manajemen yang buruk, maka dividen tersebut tidak akan bertahan lama. Selalu analisis laporan keuangan perusahaan secara menyeluruh sebelum memutuskan berinvestasi.

Kesalahan 4: Tidak Tahu Jadwal Cum Date

Ini adalah kesalahan teknis yang sangat umum terjadi pada pemula. Membeli saham sehari setelah cum date berarti kamu tidak mendapatkan dividen untuk periode tersebut, meskipun kamu sudah menyiapkan uang jauh-jauh hari. Selalu pantau kalender dividen di aplikasi sekuritas yang kamu gunakan.


Dividen adalah salah satu konsep paling indah dalam dunia investasi: sebuah mekanisme di mana kepemilikan aset yang kamu beli memberikan penghasilan yang terus mengalir, tanpa mengharuskanmu menjual apa pun. Ini adalah fondasi dari strategi penghasilan pasif yang diinginkan banyak orang.

Dalam artikel ini, kita telah mempelajari bahwa dividen adalah pembagian laba bersih perusahaan kepada pemegang saham. Ada empat jenis dividen: tunai, saham, interim, dan final. Cara mendapatkannya pun tidak rumit: cukup miliki saham sebelum atau pada hari cum date, lalu tunggu payment date tiba. Dividend yield membantu kamu membandingkan daya tarik antarsaham, sementara strategi reinvestasi memungkinkan kamu memanfaatkan kekuatan compounding untuk pertumbuhan aset jangka panjang.

Namun demikian, investasi dividen bukan tanpa risiko. Dividen bisa dipangkas, nilai saham bisa turun, dan pajak tetap berlaku. Itulah mengapa analisis fundamental selalu menjadi kunci sebelum memutuskan berinvestasi di saham mana pun.

Kabar baiknya, di era digital ini kamu memiliki akses ke semua informasi yang dibutuhkan, mulai dari laporan keuangan, histori dividen, hingga kalender cum date, semua tersedia di ujung jari melalui aplikasi investasi yang terdaftar OJK. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mulai. Perjalanan menuju kebebasan finansial dimulai dari pemahaman, dilanjutkan dengan tindakan nyata.

Dividen terbaik bukan yang terbesar, melainkan yang paling konsisten. Pilih perusahaan hebat, pegang dengan sabar, dan biarkan waktu bekerja untukmu.”

FAQ — Pertanyaan yang Sering Ditanyakan

Apa itu dividen saham?

Dividen saham adalah pembagian laba bersih perusahaan kepada para pemegang sahamnya, sesuai dengan jumlah lembar saham yang dimiliki. Dividen bisa diberikan dalam bentuk tunai (uang langsung ke rekening) atau dalam bentuk tambahan lembar saham baru. Keputusan pembagian dividen diusulkan oleh dewan direksi dan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).

Kapan dividen dibagikan?

Di Indonesia, sebagian besar perusahaan membagikan dividen satu kali per tahun, biasanya beberapa bulan setelah RUPS tahunan yang umumnya berlangsung antara bulan Februari hingga Juni. Beberapa perusahaan juga membagikan dividen interim di tengah tahun jika kondisi keuangannya memungkinkan. Jadwal lengkapnya, termasuk cum date dan payment date, diumumkan secara resmi oleh perusahaan dan bisa dipantau melalui aplikasi investasi atau situs Bursa Efek Indonesia.

Apakah semua saham memberikan dividen?

Tidak. Hanya perusahaan yang berhasil membukukan laba dan memutuskan untuk berbagi keuntungan tersebut dengan pemegang sahamnya yang akan membagikan dividen. Banyak perusahaan, terutama startup atau perusahaan yang sedang agresif berekspansi, memilih untuk menahan seluruh labanya demi pertumbuhan bisnis. Untuk mengetahui apakah suatu saham rutin membagikan dividen, kamu bisa melihat histori dividennya di laporan tahunan atau fitur screener di aplikasi sekuritas.

Berapa besar dividen yang bagus?

Tidak ada angka mutlak untuk dividen yang "bagus", karena standar ini bergantung pada perbandingan dengan instrumen investasi lain. Secara umum, dividend yield di atas 3–4% per tahun sudah dianggap kompetitif, terutama jika dibandingkan dengan bunga deposito. Namun yang lebih penting dari seberapa besar yield-nya adalah seberapa konsisten dan berkelanjutan dividen tersebut. Perusahaan yang membagikan dividen dengan yield 4% secara konsisten selama 10 tahun jauh lebih bernilai dibanding perusahaan dengan yield 12% tapi hanya sekali membagikannya.