Apa Itu Dividen? Pengertian, Jenis, Cara Kerja, dan Cara Mendapatkannya
Siapa yang tidak ingin memiliki sumber penghasilan yang
mengalir secara otomatis, bahkan saat kamu sedang tidur? Konsep "uang
bekerja untuk kamu" bukan lagi sekadar slogan motivasi. Dalam dunia
investasi, ada satu instrumen yang benar-benar bisa mewujudkan hal itu, yaitu
dividen.
Dividen adalah salah satu cara paling nyata untuk mendapatkan
penghasilan pasif dari kepemilikan saham. Berbeda dengan capital gain yang
mengharuskan kamu menjual saham terlebih dahulu untuk merealisasikan
keuntungan, dividen memberikan pendapatan langsung ke rekeningmu tanpa kamu
perlu melepas satu pun lembar saham yang kamu miliki.
Namun, meskipun konsepnya cukup populer di telinga, masih
banyak pemula yang belum benar-benar memahami bagaimana dividen bekerja. Apa
syaratnya? Bagaimana cara mendapatkannya? Berapa banyak yang bisa diterima? Dan
saham seperti apa yang sebaiknya dipilih?
Artikel ini hadir untuk menjawab semua pertanyaan tersebut
secara lengkap, jelas, dan mudah dipahami, bahkan oleh kamu yang baru pertama
kali mendengar kata dividen sekalipun. Mari kita mulai perjalanan belajar ini
bersama.
Apa Itu Dividen?
A. Pengertian Dividen
Secara sederhana, dividen adalah bagian dari laba bersih yang
dihasilkan sebuah perusahaan, lalu dibagikan kepada para pemegang sahamnya.
Besaran dividen yang diterima setiap investor ditentukan oleh jumlah lembar
saham yang mereka miliki.
Anggap saja kamu adalah salah satu pemilik sebuah toko roti
yang sukses. Setiap akhir tahun, toko roti itu meraih keuntungan. Sebagai
pemilik, kamu berhak mendapatkan bagian dari keuntungan tersebut sesuai porsi
kepemilikanmu. Itulah esensi dari dividen dalam konteks investasi saham.
“Dividen adalah hak para pemegang saham atas laba yang
berhasil diraih oleh perusahaan, diberikan sesuai dengan jumlah saham yang
dimilik.”
B. Sumber Dividen
Dividen bersumber dari laba bersih (net profit) perusahaan
setelah dikurangi pajak dan kebutuhan operasional lainnya. Tidak semua laba
bersih dibagikan sebagai dividen. Manajemen perusahaan dan dewan komisaris akan
menetapkan berapa persen dari laba yang akan dibagikan kepada pemegang saham
dan berapa persen yang akan ditahan sebagai cadangan untuk kebutuhan ekspansi
bisnis.
Rasio ini dikenal sebagai Dividend Payout Ratio (DPR), yaitu
persentase dari laba bersih yang dialokasikan menjadi dividen. Semakin tinggi
DPR, semakin banyak keuntungan yang dinikmati oleh pemegang saham dalam jangka
pendek.
C. Tujuan Pembagian Dividen
Mengapa perusahaan mau membagi keuntungannya kepada investor?
Ada beberapa alasan strategis di balik keputusan ini:
•
Memberikan imbal hasil yang nyata kepada investor
sebagai bentuk penghargaan atas kepercayaan mereka menanamkan modal
•
Menunjukkan kesehatan keuangan perusahaan kepada publik
dan pasar modal, karena hanya perusahaan yang benar-benar menghasilkan laba
yang mampu membagikan dividen secara konsisten
•
Menjaga kepercayaan dan loyalitas investor jangka
panjang agar tetap memegang saham perusahaan
•
Meningkatkan reputasi perusahaan di mata investor
institusional dan analis pasar
Jenis-Jenis Dividen
Dividen tidak hanya hadir dalam satu bentuk saja. Ada beberapa jenis dividen yang perlu kamu kenali agar bisa memahami laporan perusahaan dengan lebih baik:
|
Jenis
Dividen |
Penjelasan |
Cocok Untuk |
|
Dividen Tunai |
Pembayaran
langsung berupa uang ke rekening investor |
Investor yang
butuh cash flow rutin |
|
Dividen Saham |
Diberikan
dalam bentuk tambahan lembar saham baru |
Investor yang
ingin menambah porsi kepemilikan |
|
Dividen
Interim |
Dibagikan
sebelum tutup buku tahunan, berdasarkan laba sementara |
Perusahaan
dengan laba stabil sepanjang tahun |
|
Dividen Final |
Dibagikan
setelah RUPS mengesahkan laporan keuangan tahunan |
Investor yang
sabar menunggu keputusan resmi |
A. Dividen Tunai (Cash Dividend)
Ini adalah jenis dividen yang paling umum dan paling banyak
dikenal. Perusahaan membayarkan dividen dalam bentuk uang tunai yang langsung
ditransfer ke rekening efek atau rekening dana nasabah (RDN) milik investor.
Dividen tunai sangat disukai oleh investor yang mencari arus kas rutin, seperti
pensiunan atau mereka yang ingin menggunakan dividen sebagai pendapatan bulanan
tambahan.
B. Dividen Saham (Stock Dividend)
Alih-alih membayar tunai, perusahaan memberikan dividen dalam
bentuk lembar saham tambahan. Misalnya, untuk setiap 10 saham yang kamu miliki,
kamu mendapat 1 saham baru secara gratis. Jenis dividen ini biasanya dipilih
oleh perusahaan yang ingin mempertahankan kas untuk keperluan operasional atau
ekspansi, sambil tetap memberikan "hadiah" kepada pemegang sahamnya.
Dividen saham cocok bagi investor jangka panjang yang lebih
senang memperbesar porsi kepemilikannya dibanding menerima uang tunai.
C. Dividen Interim
Dividen interim adalah dividen yang dibagikan sebelum akhir
tahun buku perusahaan. Artinya, perusahaan tidak menunggu tutup buku tahunan
untuk membagikan sebagian keuntungannya. Biasanya dividen interim diumumkan
ketika perusahaan sudah memiliki laba yang cukup signifikan di tengah tahun
berjalan.
D. Dividen Final
Dividen final adalah dividen yang dibagikan setelah Rapat Umum
Pemegang Saham (RUPS) mengesahkan laporan keuangan tahunan perusahaan. Ini
adalah jenis dividen yang paling umum terjadi di pasar modal Indonesia, di mana
sebagian besar perusahaan membagikan dividen satu kali per tahun setelah RUPS
tahunan.
Cara Kerja Dividen Saham
A. Proses Pembagian Dividen
Proses pembagian dividen mengikuti serangkaian tahapan yang sudah diatur secara resmi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Memahami tahapan ini sangat penting agar kamu tidak melewatkan momen penting yang menentukan apakah kamu berhak menerima dividen atau tidak.
|
Tahapan |
Istilah |
Penjelasan |
|
1 |
Pengumuman
Dividen |
Perusahaan
mengumumkan besaran dividen setelah RUPS disetujui |
|
2 |
Cum Date |
Batas
terakhir investor berhak mendapatkan dividen. Wajib pegang saham di hari ini. |
|
3 |
Ex Date |
Hari setelah
cum date. Investor yang baru beli di sini tidak dapat dividen. |
|
4 |
Recording
Date |
Perusahaan
mencatat siapa saja pemegang saham yang berhak menerima dividen. |
|
5 |
Payment Date |
Dividen
dibayarkan ke rekening investor. Biasanya ~3 minggu setelah ex date. |
B. Cum Date dan Ex Date
Di antara semua tahapan di atas, cum date dan ex date adalah
dua tanggal yang paling krusial untuk diingat oleh setiap investor dividen.
Cum Date (Cumulative Date) adalah tanggal terakhir di
mana kamu masih berhak mendapatkan dividen. Jika kamu membeli atau sudah
memegang saham pada hari ini, nama kamu akan tercatat sebagai penerima dividen.
Satu hal penting yang perlu diingat: kamu tidak harus memegang saham sampai
hari pembayaran. Cukup miliki saham pada hari cum date, maka hakmu atas dividen
sudah terkunci.
Ex Date (Expired Date) adalah hari perdagangan tepat setelah cum date, biasanya keesokan harinya. Investor yang baru membeli saham pada ex date atau setelahnya tidak akan mendapatkan dividen, meskipun mereka memegang saham tersebut saat pembayaran tiba. Seringkali pada ex date, harga saham akan turun sejumlah nilai dividen yang dibagikan, karena hak atas dividen sudah tidak melekat pada saham tersebut lagi.
Cara Mendapatkan Dividen
Mendapatkan dividen sebenarnya tidak serumit yang dibayangkan.
Berikut adalah langkah-langkah praktisnya:
Langkah 1: Buka Rekening Efek di Sekuritas Terdaftar OJK
Sebelum bisa berinvestasi saham dan menerima dividen, kamu
perlu membuka rekening efek di perusahaan sekuritas yang terdaftar dan diawasi
oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Proses pembukaan rekening kini bisa
dilakukan sepenuhnya secara online melalui berbagai aplikasi sekuritas.
Langkah 2: Pilih Saham Perusahaan yang Rutin Membagikan Dividen
Tidak semua perusahaan membagikan dividen. Pilih perusahaan
dengan rekam jejak pembagian dividen yang konsisten selama beberapa tahun
berturut-turut. Informasi ini bisa ditemukan di prospektus, laporan tahunan,
atau melalui fitur screener di aplikasi investasi yang kamu gunakan.
Langkah 3: Beli Saham Sebelum atau Pada Hari Cum Date
Pastikan kamu sudah memiliki saham perusahaan tersebut sebelum
atau tepat pada hari cum date yang telah diumumkan. Pembelian yang dilakukan
setelah cum date tidak akan memberikan hak dividen untuk periode tersebut.
Langkah 4: Tunggu Payment Date
Setelah melewati cum date, kamu tidak perlu melakukan apa-apa
lagi. Perusahaan akan otomatis mencatat namamu sebagai penerima dividen dan
mentransfer pembayaran pada tanggal yang telah ditetapkan, biasanya dalam waktu
tiga hingga empat minggu setelah ex date.
Apa Itu Dividend Yield?
A. Pengertian Dividend Yield
Dividend yield adalah rasio yang menunjukkan seberapa besar
dividen yang kamu terima dibandingkan harga saham yang kamu beli. Ini adalah
salah satu metrik terpenting yang digunakan investor untuk membandingkan daya
tarik saham dividen satu dengan yang lain.
B. Rumus Dividend Yield
Dividend Yield = (Dividen per Saham / Harga Saham) x 100%
Sebagai contoh: Jika sebuah perusahaan membagikan dividen
sebesar Rp200 per lembar saham, dan harga saham saat ini adalah Rp4.000 per
lembar, maka:
Dividend Yield = (Rp200 / Rp4.000) x 100% = 5%
Artinya, setiap Rp100 yang kamu investasikan di saham
tersebut, kamu mendapatkan Rp5 dalam bentuk dividen per tahun.
C. Cara Membaca Dividend Yield
Secara umum, dividend yield di atas 3% sudah dianggap cukup
menarik, terutama jika dibandingkan dengan bunga deposito bank. Namun, yield
yang sangat tinggi (misalnya di atas 10-15%) justru perlu diwaspadai karena
bisa jadi cerminan dari harga saham yang sedang jatuh, bukan indikator
perusahaan yang sangat dermawan.
•
Yield 2–4%: Wajar untuk perusahaan blue chip yang
stabil
•
Yield 4–8%: Menarik, terutama jika konsisten dan
fundamental kuat
•
Yield >10%: Perlu diperiksa lebih dalam, apakah ini
karena harga saham anjlok?
Keuntungan Investasi Dividen
Mengapa banyak investor menyukai strategi investasi berbasis
dividen? Berikut adalah empat alasan utamanya:
A. Sumber Penghasilan Pasif yang Konsisten
Dividen memberikan arus kas reguler tanpa mengharuskan kamu
menjual aset. Bagi investor yang sudah membangun portofolio saham dividen yang
cukup besar, penghasilan dari dividen bisa menjadi sumber pendapatan tambahan
yang signifikan bahkan bisa menjadi pengganti gaji bulanan dalam jangka
panjang.
B. Cocok untuk Strategi Jangka Panjang
Saham perusahaan yang secara konsisten membagikan dividen
cenderung merupakan perusahaan yang sudah mapan, memiliki arus kas yang stabil,
dan dikelola dengan disiplin finansial yang baik. Karakteristik ini menjadikan
saham dividen lebih tahan terhadap fluktuasi pasar jangka pendek.
C. Risiko Portofolio yang Lebih Stabil
Perusahaan yang mampu membagikan dividen secara rutin biasanya
memiliki model bisnis yang sudah teruji dan arus kas yang dapat diprediksi. Ini
membuat saham dividen cenderung lebih defensif saat pasar sedang bergejolak,
sehingga portofoliomu tidak terlalu rentan terhadap volatilitas ekstrem.
D. Kekuatan Compounding Melalui Reinvestasi
Salah satu strategi paling powerful dalam investasi dividen
adalah reinvestasi, yaitu menggunakan dividen yang kamu terima untuk membeli
lebih banyak saham dari perusahaan yang sama. Seiring waktu, jumlah saham yang
kamu miliki terus bertambah, yang berarti dividen yang kamu terima juga semakin
besar. Efek bunga-berbunga ini bisa menghasilkan pertumbuhan aset yang luar
biasa dalam jangka panjang.
Kekurangan dan Risiko Dividen
Tentu saja, tidak ada instrumen investasi yang sempurna.
Investasi dividen juga memiliki keterbatasan yang perlu kamu pertimbangkan:
A. Tidak Semua Perusahaan Membagikan Dividen
Banyak perusahaan, terutama yang masih dalam fase pertumbuhan
agresif, memilih untuk menahan seluruh labanya untuk diinvestasikan kembali ke
dalam bisnis. Ini berarti pilihan saham dividen di pasar akan lebih terbatas,
dan kamu perlu melakukan seleksi yang lebih ketat.
B. Nilai Dividen Bisa Berubah Sewaktu-waktu
Dividen bukanlah kewajiban tetap seperti bunga obligasi. Jika
perusahaan mengalami penurunan laba, menghadapi kondisi ekonomi yang sulit,
atau membutuhkan dana untuk ekspansi besar, mereka bisa saja memangkas atau
bahkan menghentikan pembagian dividen. Tidak ada jaminan bahwa dividen tahun
ini akan sama dengan tahun depan.
C. Pajak Dividen
Di Indonesia, dividen yang diterima oleh investor individu
dikenakan pajak penghasilan (PPh) sebesar 10% yang bersifat final. Artinya,
dari setiap Rp100 dividen yang seharusnya kamu terima, Rp10 akan dipotong
terlebih dahulu sebagai pajak sebelum masuk ke rekeningmu. Ini adalah faktor
yang perlu diperhitungkan dalam kalkulasi return bersih investasi dividen.
Faktor yang Mempengaruhi Besarnya Dividen
Besaran dividen yang dibagikan setiap tahun tidak ditentukan
sembarangan. Ada beberapa faktor kunci yang mempengaruhi keputusan manajemen
perusahaan:
A. Laba Bersih Perusahaan
Ini adalah faktor paling fundamental. Semakin besar laba
bersih yang berhasil diraih perusahaan dalam suatu periode, semakin besar pula
potensi dividen yang bisa dibagikan. Perusahaan yang merugi hampir pasti tidak
akan membagikan dividen.
B. Kebijakan Manajemen dan Dewan Komisaris
Setiap perusahaan memiliki kebijakan dividen yang berbeda,
ditetapkan oleh manajemen dan disetujui dalam RUPS. Ada perusahaan yang
berkomitmen membagikan minimal 30% dari laba bersih sebagai dividen, ada yang
lebih besar, dan ada yang tidak memiliki komitmen tetap sama sekali.
C. Kondisi Ekonomi Makro
Resesi, krisis keuangan, atau perubahan kebijakan suku bunga
bank sentral dapat mempengaruhi keputusan pembagian dividen. Saat ekonomi
sedang lesu, banyak perusahaan memilih untuk menahan kas sebagai penyangga,
alih-alih membagikannya kepada pemegang saham.
D. Kebutuhan Dana untuk Ekspansi
Perusahaan yang sedang agresif melakukan ekspansi, seperti
membangun pabrik baru, mengakuisisi perusahaan lain, atau memasuki pasar baru,
biasanya akan menahan lebih banyak laba untuk mendanai pertumbuhannya. Hal ini
wajar dan justru bisa menjadi sinyal positif tentang prospek bisnis jangka
panjang perusahaan tersebut.
Contoh Perhitungan Dividen
Mari kita lihat bagaimana cara menghitung dividen yang akan
kamu terima dengan contoh konkret yang mudah dipahami:
Contoh 1: Perhitungan Dasar
Skenario: Kamu memiliki 1.000 lembar saham perusahaan
XYZ. Perusahaan mengumumkan dividen tunai sebesar Rp100 per lembar saham.
Total Dividen Bruto: 1.000 lembar x Rp100 = Rp100.000
Pajak (10%): Rp100.000 x 10% = Rp10.000
Dividen Bersih yang Diterima: Rp100.000 - Rp10.000 =
Rp90.000
Contoh 2: Perhitungan Menggunakan DPR
Skenario: Perusahaan ABCD memiliki 10 juta lembar saham
beredar. Laba bersih tahun ini Rp2 miliar. Dividend Payout Ratio (DPR)
ditetapkan 50%.
Total Dividen yang Dibagikan: Rp2.000.000.000 x 50% =
Rp1.000.000.000
Dividen per Lembar Saham: Rp1.000.000.000 / 10.000.000
lembar = Rp100 per lembar
Jika kamu memiliki 500 lembar saham ABCD, dividen bruto yang
kamu terima adalah 500 x Rp100 = Rp50.000, dan setelah dipotong pajak 10%
menjadi Rp45.000.
Strategi Investasi Dividen
Ada beberapa pendekatan strategi yang bisa kamu terapkan jika
ingin fokus pada investasi berbasis dividen:
A. Dividend Investing (Fokus pada Yield)
Strategi ini berfokus pada memilih saham-saham yang konsisten
membagikan dividen dengan yield yang menarik. Investor yang menggunakan
pendekatan ini biasanya tertarik pada arus kas dividen jangka pendek hingga
menengah. Kuncinya adalah memastikan perusahaan yang dipilih memiliki
fundamental yang kuat, bukan sekadar yield tinggi.
B. Dividend Growth Investing
Berbeda dengan strategi pertama, dividend growth investing
tidak hanya memperhatikan besarnya yield saat ini, melainkan juga tren
pertumbuhan dividen dari tahun ke tahun. Perusahaan yang mampu meningkatkan
dividen secara konsisten setiap tahun adalah perusahaan yang laba bisnisnya
terus tumbuh. Dalam jangka panjang, strategi ini bisa menghasilkan yield yang
sangat tinggi terhadap harga beli awal kamu.
C. Reinvestasi Dividen untuk Compounding
Strategi reinvestasi adalah cara paling sederhana namun sangat
efektif untuk mempercepat pertumbuhan aset. Setiap kali menerima dividen,
alih-alih menariknya sebagai penghasilan, gunakan uang tersebut untuk membeli
lebih banyak saham yang sama. Seiring berjalannya waktu, jumlah saham yang kamu
miliki akan terus bertumbuh, dan dividen yang kamu terima juga akan semakin
besar secara eksponensial.
“Bayangkan bola salju yang menggelinding menuruni bukit.
Semakin jauh menggelinding, semakin besar bola itu. Itulah kekuatan reinvestasi
dividen dalam jangka panjang.”
Tips Memilih Saham Dividen yang Baik
Tidak semua saham yang membagikan dividen layak untuk
diinvestasikan. Berikut empat tips praktis untuk memilih saham dividen yang
berkualitas:
1.
Pilih perusahaan dengan bisnis yang stabil dan sudah
terbukti menghasilkan laba secara konsisten selama minimal 5 tahun
berturut-turut. Perusahaan di sektor seperti perbankan, infrastruktur,
utilitas, dan kebutuhan pokok umumnya memiliki karakteristik ini.
2.
Periksa histori pembagian dividen setidaknya 5 tahun ke
belakang. Apakah perusahaan pernah memotong atau menghentikan dividen?
Konsistensi adalah tanda kepercayaan yang penting bagi investor dividen.
3.
Perhatikan dividend yield, namun jangan menjadikannya
satu-satunya pertimbangan. Yield yang konsisten di kisaran 3-8% dengan
fundamental yang kuat jauh lebih berharga daripada yield 15% yang datang dari
perusahaan yang sedang menghadapi masalah keuangan.
4.
Jangan tergiur yield yang terlalu tinggi tanpa analisis
mendalam. Yield ekstrem sering kali merupakan tanda bahwa harga saham sedang
jatuh karena masalah fundamental, bukan karena perusahaan sangat dermawan.
Selalu periksa alasan di balik yield yang tidak wajar.
Kesalahan Umum tentang Dividen
Banyak investor pemula membuat kesalahan yang sebenarnya bisa
dihindari. Berikut empat yang paling sering terjadi:
Kesalahan 1: Mengira Dividen Pasti Selalu Menguntungkan
Dividen memang menarik, tapi bukan berarti bebas risiko. Jika
harga saham turun lebih besar dari nilai dividen yang diterima, secara total
kamu tetap merugi. Selalu hitung return total yang mencakup capital gain atau
capital loss, bukan hanya dividen saja.
Kesalahan 2: Hanya Fokus pada Yield Tinggi
Mengejar yield setinggi-tingginya tanpa memperhatikan kondisi
perusahaan adalah jebakan yang sering dialami pemula. Yield yang sangat tinggi
bisa menjadi sinyal bahaya, bukan kesempatan emas. Selalu tanya: mengapa
yield-nya bisa setinggi ini?
Kesalahan 3: Mengabaikan Fundamental Perusahaan
Dividen hanyalah output dari bisnis yang sehat. Jika
fundamental perusahaan lemah, seperti utang tinggi, laba yang menurun, atau
manajemen yang buruk, maka dividen tersebut tidak akan bertahan lama. Selalu
analisis laporan keuangan perusahaan secara menyeluruh sebelum memutuskan
berinvestasi.
Kesalahan 4: Tidak Tahu Jadwal Cum Date
Ini adalah kesalahan teknis yang sangat umum terjadi pada pemula. Membeli saham sehari setelah cum date berarti kamu tidak mendapatkan dividen untuk periode tersebut, meskipun kamu sudah menyiapkan uang jauh-jauh hari. Selalu pantau kalender dividen di aplikasi sekuritas yang kamu gunakan.
Dividen adalah salah satu konsep paling indah dalam dunia
investasi: sebuah mekanisme di mana kepemilikan aset yang kamu beli memberikan
penghasilan yang terus mengalir, tanpa mengharuskanmu menjual apa pun. Ini
adalah fondasi dari strategi penghasilan pasif yang diinginkan banyak orang.
Dalam artikel ini, kita telah mempelajari bahwa dividen adalah
pembagian laba bersih perusahaan kepada pemegang saham. Ada empat jenis
dividen: tunai, saham, interim, dan final. Cara mendapatkannya pun tidak rumit:
cukup miliki saham sebelum atau pada hari cum date, lalu tunggu payment date
tiba. Dividend yield membantu kamu membandingkan daya tarik antarsaham,
sementara strategi reinvestasi memungkinkan kamu memanfaatkan kekuatan
compounding untuk pertumbuhan aset jangka panjang.
Namun demikian, investasi dividen bukan tanpa risiko. Dividen
bisa dipangkas, nilai saham bisa turun, dan pajak tetap berlaku. Itulah mengapa
analisis fundamental selalu menjadi kunci sebelum memutuskan berinvestasi di
saham mana pun.
Kabar baiknya, di era digital ini kamu memiliki akses ke semua
informasi yang dibutuhkan, mulai dari laporan keuangan, histori dividen, hingga
kalender cum date, semua tersedia di ujung jari melalui aplikasi investasi yang
terdaftar OJK. Tidak ada lagi alasan untuk tidak mulai. Perjalanan menuju
kebebasan finansial dimulai dari pemahaman, dilanjutkan dengan tindakan nyata.
“Dividen terbaik bukan yang terbesar, melainkan yang
paling konsisten. Pilih perusahaan hebat, pegang dengan sabar, dan biarkan
waktu bekerja untukmu.”
FAQ — Pertanyaan yang Sering Ditanyakan
Apa itu dividen saham?
Dividen saham adalah pembagian laba bersih perusahaan kepada
para pemegang sahamnya, sesuai dengan jumlah lembar saham yang dimiliki.
Dividen bisa diberikan dalam bentuk tunai (uang langsung ke rekening) atau
dalam bentuk tambahan lembar saham baru. Keputusan pembagian dividen diusulkan
oleh dewan direksi dan disahkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS).
Kapan dividen dibagikan?
Di Indonesia, sebagian besar perusahaan membagikan dividen
satu kali per tahun, biasanya beberapa bulan setelah RUPS tahunan yang umumnya
berlangsung antara bulan Februari hingga Juni. Beberapa perusahaan juga
membagikan dividen interim di tengah tahun jika kondisi keuangannya
memungkinkan. Jadwal lengkapnya, termasuk cum date dan payment date, diumumkan
secara resmi oleh perusahaan dan bisa dipantau melalui aplikasi investasi atau
situs Bursa Efek Indonesia.
Apakah semua saham memberikan dividen?
Tidak. Hanya perusahaan yang berhasil membukukan laba dan
memutuskan untuk berbagi keuntungan tersebut dengan pemegang sahamnya yang akan
membagikan dividen. Banyak perusahaan, terutama startup atau perusahaan yang
sedang agresif berekspansi, memilih untuk menahan seluruh labanya demi
pertumbuhan bisnis. Untuk mengetahui apakah suatu saham rutin membagikan
dividen, kamu bisa melihat histori dividennya di laporan tahunan atau fitur
screener di aplikasi sekuritas.
Berapa besar dividen yang bagus?
Tidak ada angka mutlak untuk dividen yang "bagus", karena standar ini bergantung pada perbandingan dengan instrumen investasi lain. Secara umum, dividend yield di atas 3–4% per tahun sudah dianggap kompetitif, terutama jika dibandingkan dengan bunga deposito. Namun yang lebih penting dari seberapa besar yield-nya adalah seberapa konsisten dan berkelanjutan dividen tersebut. Perusahaan yang membagikan dividen dengan yield 4% secara konsisten selama 10 tahun jauh lebih bernilai dibanding perusahaan dengan yield 12% tapi hanya sekali membagikannya.
.jpg)