Rumus Price Earning Ratio (PER) dan PBV Saham: Cara Menghitung & Membaca-nya khusus Pemula


Coba bayangkan kamu sedang berbelanja di toko elektronik. Ada dua merek laptop dengan spesifikasi hampir sama, tapi harganya berbeda jauh. Kamu pasti akan bertanya, mana yang lebih worth it? Nah, prinsip yang sama berlaku saat kamu membeli saham. Kamu tidak hanya perlu tahu harganya, tapi juga perlu tahu apakah harga tersebut masuk akal atau tidak.

Inilah masalah yang paling sering dihadapi investor pemula. mereka melihat harga saham Rp5.000 per lembar dan langsung berpikir "mahal sekali" atau sebaliknya, melihat harga Rp50 dan merasa "murah". Padahal, murah atau mahalnya sebuah saham tidak bisa dinilai hanya dari nominal harganya saja.

Di sinilah rasio keuangan bekerja. Dan dari sekian banyak rasio yang ada, dua yang paling populer, paling mudah dipahami, dan paling sering digunakan adalah Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV). Keduanya seperti kacamata yang membantu kamu melihat apakah sebuah saham sedang murah, wajar, atau mahal secara fundamental.

Artikel ini akan memandu kamu memahami kedua rasio tersebut dari nol: mulai dari definisi, rumus, cara menghitung, cara membaca angkanya, hingga bagaimana menggunakannya secara bersamaan untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas. Tenang, tidak perlu latar belakang akuntansi atau keuangan untuk memahami hal ini. Yuk, kita mulai!

Apa Itu Rasio Keuangan dalam investasi Saham?

A. Pengertian Rasio Keuangan

Rasio keuangan adalah angka yang dihasilkan dari perbandingan dua data keuangan perusahaan. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang lebih bermakna dan mudah dibandingkan daripada sekadar melihat angka mentah dalam laporan keuangan.

Misalnya, laba bersih perusahaan A adalah Rp500 miliar dan perusahaan B adalah Rp200 miliar. Apakah perusahaan A lebih baik? Belum tentu, karena kita belum tahu aset atau modalnya berapa. Rasio keuangan hadir untuk menjawab pertanyaan seperti ini dengan cara yang lebih adil dan kontekstual.

B. Kenapa Penting untuk Investor?

Bagi investor, rasio keuangan memiliki dua fungsi utama yang sangat krusial:

      Membantu pengambilan keputusan: Dengan rasio yang tepat, kamu bisa menilai apakah sebuah saham layak dibeli, ditahan, atau dijual tanpa perlu membaca laporan keuangan setebal buku.

      Mengurangi risiko salah beli saham: Membeli saham tanpa memahami valuasinya sama seperti membeli barang tanpa mengecek harga dan kualitasnya. Rasio keuangan adalah "label harga" yang sebenarnya.

C. Jenis Rasio Keuangan yang Populer

Ada banyak rasio yang digunakan dalam analisis fundamental saham. Beberapa yang paling sering disebutkan antara lain:

      PER (Price Earning Ratio): Mengukur valuasi berdasarkan kemampuan laba

      PBV (Price to Book Value): Mengukur valuasi berdasarkan nilai aset/ekuitas

      ROE (Return on Equity): Mengukur efisiensi perusahaan menghasilkan laba dari modal

      DER (Debt to Equity Ratio): Mengukur seberapa besar utang dibanding ekuitas

      EPS (Earnings Per Share): Laba bersih per lembar saham

Dalam artikel ini, kita akan fokus mendalami PER dan PBV karena keduanya adalah yang paling relevan dan mudah digunakan untuk menilai valuasi saham, terutama bagi pemula.

Pengertian Price Earning Ratio (PER)

A. Definisi PER

Price Earning Ratio, atau yang sering disingkat PER (ada juga yang menulis P/E Ratio), adalah rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan laba per saham (Earnings Per Share/EPS) perusahaan tersebut.

Secara sederhan, PER menunjukkan berapa kali lipat harga saham dibanding laba yang dihasilkan perusahaan per lembar sahamnya.

B. Fungsi PER

PER digunakan untuk mengukur valuasi saham berdasarkan profitabilitas perusahaan. Rasio ini menjawab pertanyaan penting, "Apakah harga yang saya bayar untuk saham ini sepadan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba?"

C. Konsep Sederhana

Ada cara mudah untuk memahami PER secara intuitif. PER = 10x artinya, jika laba perusahaan stabil, kamu butuh waktu sekitar 10 tahun untuk "balik modal" dari laba yang dihasilkan perusahaan. PER = 20x artinya butuh 20 tahun. Semakin rendah PER, semakin cepat secara teoritis kamu bisa balik modal, dan secara umum saham tersebut dianggap lebih murah.

Rumus Price Earning Ratio (PER)

A. Rumus PER

Rumus PER sangat sederhana:

 

PER = Harga Saham / EPS (Earnings Per Share)

 

B. Cara Menghitung EPS

Sebelum bisa menghitung PER, kamu perlu tahu dulu nilai EPS. Rumusnya juga tidak sulit:

 

EPS = Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar

 

EPS (Earnings Per Share) atau Laba Per Saham adalah angka yang menunjukkan berapa laba bersih perusahaan yang dialokasikan untuk setiap lembar saham yang beredar di pasar. Semakin tinggi EPS, semakin besar laba yang dihasilkan perusahaan per lembar sahamnya, dan ini umumnya merupakan tanda yang baik.

C. Contoh Perhitungan PER

Mari kita gunakan contoh nyata agar lebih mudah dipahami:

      Sebuah perusahaan (misalnya PT Maju Bersama Tbk) memiliki laba bersih sebesar Rp1 triliun

      Jumlah saham yang beredar: 10 miliar lembar

      Harga saham saat ini di bursa: Rp1.000 per lembar

Langkah 1 - Hitung EPS:

 

EPS = Rp1.000.000.000.000 / 10.000.000.000 = Rp100

 

Langkah 2 - Hitung PER:

 

PER = Rp1.000 / Rp100 = 10x

 

Artinya, investor membayar 10 kali lipat dari laba per saham perusahaan tersebut. Apakah 10x itu murah atau mahal? Jawabannya: tergantung rata-rata PER industri sejenis, yang akan kita bahas lebih lanjut.

Cara Membaca PER - Murah, Wajar, atau Mahal?

A. PER Rendah: Sinyal Murah?

Secara umum, PER yang lebih rendah dari rata-rata industrinya mengindikasikan bahwa saham tersebut mungkin sedang undervalued atau "murah". Ini bisa menjadi peluang menarik bagi investor value.

Namun, hati-hati dengan jebakan PER rendah. Saham bisa memiliki PER rendah bukan karena murah, tapi karena memang kualitas perusahaannya kurang baik, pertumbuhannya lambat, atau ada masalah fundamental yang membuat investor enggan membeli. Selalu cari tahu "kenapa PER-nya rendah" sebelum mengambil kesimpulan.

B. PER Tinggi: Pasti Mahal?

PER yang tinggi bisa berarti saham sedang overvalued, tapi bisa juga berarti investor percaya perusahaan tersebut akan tumbuh sangat pesat di masa depan. Saham-saham teknologi dan perusahaan high-growth biasanya memiliki PER tinggi karena pasar membayar premium untuk potensi pertumbuhan ke depan.

Contohnya: perusahaan teknologi dengan pertumbuhan pendapatan 50% per tahun wajar jika memiliki PER tinggi, karena laba saat ini masih kecil tapi diyakini akan meledak di masa mendatang.

C. Selalu Bandingkan dengan Industri yang Sama

Ini adalah aturan emas membaca PER: jangan pernah membandingkan PER saham dari industri yang berbeda. PER rata-rata sektor perbankan bisa sangat berbeda dengan sektor pertambangan atau teknologi. Bandingkan apelnya dengan apel, bukan dengan jeruk.

Sebagai referensi umum, rata-rata PER IHSG secara historis berkisar antara 15-20x. Tapi angka ini bisa sangat bervariasi per sektor dan kondisi pasar. Gunakan data terkini dari platform analisis saham terpercaya.

Kelebihan dan Kekurangan PER

Kelebihan PER:

      Mudah digunakan dan dipahami, bahkan oleh pemula sekalipun

      Sangat populer dan tersedia di hampir semua platform analisis saham

      Memungkinkan perbandingan cepat antar saham dalam sektor yang sama

      Mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba perusahaan

Kekurangan PER:

      Tidak bisa digunakan untuk perusahaan yang sedang merugi (EPS negatif membuat PER tidak bermakna)

      Tidak memperhitungkan struktur utang perusahaan, padahal utang besar bisa mengancam kelangsungan bisnis

      Rentan dimanipulasi jika angka laba yang dilaporkan perusahaan tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya

      PER historis tidak selalu relevan untuk memprediksi kinerja masa depan

Pengertian Price to Book Value (PBV)

A. Definisi PBV

Price to Book Value (PBV) adalah rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku per saham perusahaan. Nilai buku (book value) mencerminkan nilai aset bersih perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban atau utangnya, dibagi dengan jumlah saham yang beredar.

Sederhananya PBV menunjukkan berapa kali lipat pasar menghargai aset bersih perusahaan tersebut.

B. Fungsi PBV

PBV digunakan untuk menilai valuasi saham dari sisi aset atau kekayaan bersih perusahaan. Rasio ini menjawab pertanyaan: "Apakah harga yang saya bayar untuk saham ini sepadan dengan nilai aset yang dimiliki perusahaan?"

PBV sangat berguna untuk perusahaan yang kekayaannya sebagian besar berupa aset nyata (tangible assets) seperti tanah, gedung, mesin, atau investasi keuangan. Itulah mengapa PBV sangat populer digunakan untuk menganalisis saham-saham perbankan, properti, dan sektor keuangan.

C. Konsep Sederhana: Harga vs Nilai Aset Bersih

Bayangkan sebuah perusahaan punya aset senilai Rp1 miliar (setelah dikurangi semua utangnya). Jika kamu bisa membeli perusahaan itu seharga Rp800 juta saja (PBV < 1), secara teori kamu mendapat nilai lebih dari yang kamu bayar. Menarik, bukan?

Rumus Price to Book Value (PBV)

A. Rumus PBV

Rumus PBV adalah:

 

PBV = Harga Saham / Nilai Buku per Saham (Book Value per Share)

 

B. Cara Menghitung Nilai Buku per Saham

Nilai buku per saham dihitung dengan rumus berikut:

 

Nilai Buku per Saham = Total Ekuitas / Jumlah Saham Beredar

 

Total ekuitas bisa kamu temukan di bagian neraca (balance sheet) laporan keuangan perusahaan, yang wajib dipublikasikan setiap kuartal untuk emiten yang terdaftar di bursa.

C. Contoh Perhitungan PBV

Gunakan contoh yang sama seperti sebelumnya:

      PT Maju Bersama Tbk memiliki total ekuitas: Rp8 triliun

      Jumlah saham beredar: 10 miliar lembar

      Harga saham saat ini: Rp1.000 per lembar

Langkah 1 - Hitung Nilai Buku per Saham:

 

Nilai Buku per Saham = Rp8.000.000.000.000 / 10.000.000.000 = Rp800

 

Langkah 2 - Hitung PBV:

 

PBV = Rp1.000 / Rp800 = 1,25x


Artinya, pasar saat ini menghargai perusahaan ini 1,25 kali dari nilai aset bersihnya. Apakah itu bagus atau buruk? Mari kita bahas cara membacanya.

Cara Membaca PBV: Panduan Praktis

A. PBV di Bawah 1x: Tanda Murah?

Secara teori, PBV di bawah 1x berarti kamu membeli perusahaan dengan harga lebih murah dari nilai aset bersihnya. Ini sering disebut sebagai kondisi undervalued dan menjadi incaran investor bergaya value investing.

Tapi sekali lagi, jangan langsung terlena. PBV rendah bisa juga mencerminkan bahwa pasar tidak percaya aset perusahaan memiliki nilai seperti yang tercatat di buku, misalnya karena kualitas aset yang buruk, risiko kredit tinggi, atau bisnis yang sedang dalam masalah serius.

B. PBV di Atas 1x: Selalu Mahal?

PBV di atas 1x tidak selalu berarti mahal. Perusahaan dengan kualitas manajemen luar biasa, merek yang kuat, loyalitas pelanggan tinggi, atau keunggulan kompetitif yang sulit ditiru biasanya diperdagangkan dengan PBV premium. Pasar membayar lebih untuk kualitas yang tidak selalu bisa ditangkap oleh angka akuntansi.

C. Cocok untuk Sektor Apa?

PBV paling relevan dan efektif digunakan untuk sektor-sektor yang kekayaannya berbasis aset, terutama:

      Perbankan dan lembaga keuangan: Di mana aset utama berupa pinjaman, investasi, dan surat berharga

      Properti dan real estate: Di mana nilai tanah dan bangunan sangat material

      Asuransi dan multifinance

PBV kurang relevan untuk perusahaan teknologi, media, atau platform digital yang nilai terbesarnya justru ada pada intangible assets seperti paten, merek, data pengguna, dan network effect, yang tidak selalu tercermin dalam nilai buku akuntansi.

Kelebihan dan Kekurangan PBV

Kelebihan PBV:

      Sangat cocok dan akurat untuk perusahaan berbasis aset seperti bank dan properti

      Bisa digunakan bahkan ketika perusahaan sedang merugi (karena menggunakan ekuitas, bukan laba)

      Mudah dihitung karena data ekuitas tersedia di laporan keuangan

Kekurangan PBV:

      Kurang relevan untuk perusahaan teknologi, media, atau platform karena nilai utamanya ada di aset tidak berwujud (intangible assets)

      Tidak mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan profit, sehingga bisa menyesatkan jika digunakan sendiri

      Nilai buku bisa tidak akurat jika aset sudah lama tidak direvaluasi sesuai harga pasar

Perbedaan PER dan PBV: Mana yang Lebih Baik?

Daripada berdebat mana yang lebih baik, lebih bijak jika kita memahami perbedaan dan peran masing-masing:

Aspek

PER (Price Earning Ratio)

PBV (Price to Book Value)

Fokus Penilaian

Laba/profitabilitas perusahaan

Nilai aset/ekuitas perusahaan

Rumus

Harga Saham / EPS

Harga Saham / Nilai Buku per Saham

Cocok untuk

Hampir semua sektor

Perbankan, keuangan, aset berat

Nilai Ideal

Di bawah rata-rata industri

Di bawah 1x bisa menarik

Kelemahan

Tidak cocok perusahaan rugi

Kurang relevan sektor teknologi

Kesimpulan penting: PER dan PBV bukan pesaing, melainkan mitra. Idealnya, gunakan keduanya secara bersamaan untuk mendapatkan gambaran valuasi yang lebih lengkap dan akurat.

Cara Menggunakan PER dan PBV Secara Bersamaan

A. Kombinasi Analisis yang Efektif

Cara paling cerdas menggunakan PER dan PBV adalah dengan mengombinasikannya. Berikut panduan sederhana:

      PER rendah + PBV rendah: Ini adalah kombinasi paling menarik. Saham bisa sangat undervalued dan patut diteliti lebih dalam.

      PER rendah + PBV tinggi: Perusahaan menghasilkan laba cukup baik tapi pasar menghargai asetnya sangat tinggi. Perlu dianalisis lebih lanjut.

      PER tinggi + PBV rendah: Jarang terjadi, bisa menandakan perusahaan sedang membenahi dirinya.

      PER tinggi + PBV tinggi: Saham premium yang bisa mahal, tapi juga bisa mencerminkan kualitas bisnis yang luar biasa.

B. Hindari Kesalahan Umum

Banyak investor pemula yang hanya menggunakan satu rasio untuk membuat keputusan besar. Ini sangat berisiko. Satu rasio hanya memberikan satu sudut pandang. Gabungkan setidaknya dua atau tiga rasio untuk mendapat gambaran yang lebih utuh.

C. Tambahkan Rasio Pelengkap (Opsional tapi Disarankan)

      ROE (Return on Equity): Untuk mengukur seberapa efisien perusahaan menghasilkan laba dari modalnya. ROE tinggi + PBV rendah adalah kombinasi yang sangat dicari investor value.

      DER (Debt to Equity Ratio): Untuk memastikan perusahaan tidak terlalu banyak utang, yang bisa menggerogoti keuntungan di era suku bunga tinggi.

Cara Menentukan Saham Murah atau Mahal

A. Bandingkan dengan Kompetitor

Langkah pertama dan paling mudah adalah membandingkan PER dan PBV sebuah saham dengan kompetitor terdekatnya di sektor yang sama. Jika saham A memiliki PER 8x sementara rata-rata kompetitornya 15x, saham A patut diperiksa lebih dalam sebagai kandidat undervalued.

B. Lihat Histori Rasio

Selain membandingkan dengan kompetitor, lihat juga histori PER dan PBV saham tersebut di masa lalu. Apakah saat ini lebih rendah atau lebih tinggi dari rata-rata historisnya? Jika jauh di bawah rata-rata historis tanpa ada perubahan fundamental yang signifikan, ini bisa menjadi sinyal menarik.

C. Gunakan Margin of Safety

Konsep margin of safety yang dipopulerkan oleh Benjamin Graham menyarankan agar investor membeli saham dengan harga yang cukup jauh di bawah estimasi nilai wajarnya. Ini memberikan "bantalan keamanan" kalau analisismu ternyata meleset. Dalam konteks PER dan PBV, carilah saham yang rasionya signifikan di bawah rata-rata industri, bukan hanya sedikit lebih rendah.

Tips Praktis untuk Investor Pemula

A. Mulai dari PER dan PBV

Jangan langsung mencoba memahami semua rasio keuangan sekaligus. Mulailah dari PER dan PBV karena keduanya paling mudah dipahami, paling sering dibahas, dan tersedia di hampir semua platform investasi. Setelah nyaman, baru perlahan tambahkan rasio lain seperti ROE dan DER ke dalam toolbox analisismu.

B. Gunakan Aplikasi Stock Screener

Di era digital sekarang, kamu tidak perlu menghitung PER dan PBV secara manual setiap hari. Manfaatkan fitur stock screener yang tersedia di berbagai platform investasi seperti Stockbit, RTI Business, Bloomberg, atau fitur screener di IDX (Bursa Efek Indonesia). Kamu bisa menyaring ratusan saham berdasarkan kriteria PER dan PBV yang kamu tentukan dalam hitungan detik.

C. Fokus pada Perusahaan Besar Dulu

Sebagai pemula, lebih baik mulai menganalisis saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45 atau IDX30, yaitu saham-saham perusahaan terbesar dan paling likuid di Bursa Efek Indonesia. Data keuangannya lebih mudah ditemukan, lebih transparan, dan lebih mudah dibandingkan.

D. Jangan Overthinking Analisis

Ini adalah jebakan yang sering membuat pemula tidak pernah memulai: menunggu sampai merasa "cukup pintar" untuk berinvestasi. Ingat, bahkan investor paling berpengalaman pun masih terus belajar. Mulailah dari yang sederhana, praktikkan, dan evaluasi secara berkala. Kesalahan kecil di awal adalah biaya belajar yang jauh lebih murah dibanding kehilangan kesempatan.

Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Menggunakan PER dan PBV

A. Menggunakan Data Lama

Laporan keuangan perusahaan dipublikasikan setiap kuartal. Pastikan kamu selalu menggunakan data terbaru, bukan data dari satu atau dua tahun lalu. PER yang dihitung dari laba tahun lalu bisa sangat menyesatkan jika kondisi bisnis perusahaan sudah berubah drastis.

B. Tidak Memahami Bisnis Perusahaan

Rasio keuangan hanyalah alat bantu, bukan pengganti pemahaman bisnis. Sebelum membeli saham, usahakan kamu memahami: apa bisnis utama perusahaan, bagaimana mereka menghasilkan pendapatan, siapa kompetitornya, dan bagaimana prospek industrinya ke depan. Angka yang bagus di atas kertas bisa tidak berarti apa-apa jika model bisnisnya tidak berkelanjutan.

C. Hanya Melihat Angka Tanpa Konteks

PER 5x bisa terdengar sangat murah. Tapi kalau perusahaannya sedang menghadapi gugatan hukum besar, kehilangan pelanggan utama, atau industrinya sedang sunset, angka murah itu bisa menjadi jebakan. Selalu letakkan angka dalam konteks kondisi bisnis yang lebih luas.

D. Mengabaikan Risiko

Tidak ada investasi tanpa risiko, dan rasio keuangan tidak bisa mengukur semua jenis risiko. Risiko regulasi, risiko geopolitik, risiko manajemen, dan risiko likuiditas adalah faktor-faktor yang tidak bisa ditangkap oleh PER atau PBV. Pastikan kamu juga mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif ini dalam keputusan investasimu.

Kesimpulannya,

PER dan PBV adalah dua pilar dasar dalam analisis valuasi saham yang wajib dipahami oleh setiap investor, terutama pemula. Keduanya memberikan sudut pandang yang berbeda namun saling melengkapi: PER fokus pada kemampuan menghasilkan laba, sementara PBV fokus pada nilai aset perusahaan.

Menggunakan keduanya secara bersamaan memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif dibanding hanya mengandalkan satu rasio. Dan yang terpenting, selalu bandingkan dengan konteks industri yang sama, gunakan data terkini, dan jangan abaikan pemahaman kualitatif tentang bisnis perusahaan.

Kabar baiknya, memahami PER dan PBV tidak membutuhkan gelar keuangan atau keahlian akuntansi. Dengan pemahaman yang sudah kamu miliki setelah membaca artikel ini, kamu sudah selangkah lebih maju dari banyak investor pemula lainnya. Sekarang saatnya mempraktikkannya: buka platform analisis saham favoritmu, pilih beberapa saham, dan coba hitung serta bandingkan PER dan PBV-nya.

Investasi cerdas dimulai dari pemahaman yang kuat. Dan kamu baru saja memperkuat fondasi itu. Selamat berinvestasi!

FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang PER dan PBV

Apa itu PER dalam saham?

PER (Price Earning Ratio) adalah rasio yang membandingkan harga saham di pasar dengan laba per saham (EPS) perusahaan. PER menunjukkan berapa kali lipat pasar menghargai setiap rupiah laba yang dihasilkan perusahaan. Rumusnya: PER = Harga Saham / EPS. Semakin rendah PER dibanding rata-rata industri sejenis, secara umum saham tersebut dianggap lebih murah secara valuasi.

PER yang bagus itu berapa?

Tidak ada angka PER yang universal "bagus" atau "buruk" karena setiap industri memiliki rata-rata PER yang berbeda. Sebagai panduan umum: PER di bawah rata-rata industrinya bisa mengindikasikan saham undervalued, sementara PER sangat tinggi bisa berarti overvalued atau mencerminkan ekspektasi pertumbuhan tinggi. Di Indonesia, rata-rata PER IHSG secara historis berkisar antara 15-20x, tapi selalu bandingkan dengan sektor yang sama.

PBV ideal itu berapa?

PBV di bawah 1x secara teoritis berarti kamu membeli perusahaan dengan harga lebih murah dari nilai aset bersihnya, yang menarik bagi value investor. Namun, standar "ideal" PBV sangat bergantung pada sektor. Untuk perbankan, PBV antara 1-2x sering dianggap wajar. Untuk sektor teknologi, PBV bisa sangat tinggi karena nilai utama perusahaan ada pada aset tidak berwujud yang tidak tercermin dalam nilai buku.

Mana yang lebih penting, PER atau PBV?

Tidak ada yang lebih penting karena keduanya mengukur hal berbeda. PER lebih tepat digunakan untuk perusahaan yang menghasilkan laba konsisten di berbagai sektor, sementara PBV lebih relevan untuk perusahaan berbasis aset seperti bank dan properti. Untuk analisis yang solid, gunakan keduanya secara bersamaan, ditambah rasio pelengkap seperti ROE dan DER agar gambaran yang kamu dapatkan semakin utuh dan akurat.


Posting Komentar untuk "Rumus Price Earning Ratio (PER) dan PBV Saham: Cara Menghitung & Membaca-nya khusus Pemula"