Rumus Price Earning Ratio (PER) dan PBV Saham: Cara Menghitung & Membaca-nya khusus Pemula
Coba
bayangkan kamu sedang berbelanja di toko elektronik. Ada dua merek laptop
dengan spesifikasi hampir sama, tapi harganya berbeda jauh. Kamu pasti akan
bertanya, mana yang lebih worth it? Nah, prinsip yang sama berlaku saat kamu
membeli saham. Kamu tidak hanya perlu tahu harganya, tapi juga perlu tahu
apakah harga tersebut masuk akal atau tidak.
Inilah
masalah yang paling sering dihadapi investor pemula. mereka melihat harga saham
Rp5.000 per lembar dan langsung berpikir "mahal sekali" atau
sebaliknya, melihat harga Rp50 dan merasa "murah". Padahal, murah atau mahalnya sebuah saham tidak bisa dinilai hanya dari nominal
harganya saja.
Di sinilah
rasio keuangan bekerja. Dan dari sekian banyak rasio yang ada,
dua yang paling populer, paling mudah dipahami, dan paling sering digunakan
adalah Price Earning Ratio (PER) dan Price to Book Value (PBV).
Keduanya seperti kacamata yang membantu kamu melihat apakah sebuah saham sedang
murah, wajar, atau mahal secara fundamental.
Artikel ini
akan memandu kamu memahami kedua rasio tersebut dari nol: mulai dari definisi,
rumus, cara menghitung, cara membaca angkanya, hingga bagaimana menggunakannya
secara bersamaan untuk membuat keputusan investasi yang lebih cerdas. Tenang,
tidak perlu latar belakang akuntansi atau keuangan untuk memahami hal ini. Yuk,
kita mulai!
Apa Itu Rasio Keuangan dalam investasi Saham?
A. Pengertian Rasio Keuangan
Rasio
keuangan adalah angka yang dihasilkan dari perbandingan dua data keuangan
perusahaan. Tujuannya adalah untuk memberikan gambaran yang lebih bermakna dan
mudah dibandingkan daripada sekadar melihat angka mentah dalam laporan
keuangan.
Misalnya,
laba bersih perusahaan A adalah Rp500 miliar dan perusahaan B adalah Rp200
miliar. Apakah perusahaan A lebih baik? Belum tentu, karena kita belum tahu
aset atau modalnya berapa. Rasio keuangan hadir untuk menjawab pertanyaan
seperti ini dengan cara yang lebih adil dan kontekstual.
B. Kenapa Penting untuk Investor?
Bagi
investor, rasio keuangan memiliki dua fungsi utama yang sangat krusial:
•
Membantu pengambilan keputusan: Dengan rasio yang
tepat, kamu bisa menilai apakah sebuah saham layak dibeli, ditahan, atau dijual
tanpa perlu membaca laporan keuangan setebal buku.
•
Mengurangi risiko salah beli saham: Membeli saham tanpa
memahami valuasinya sama seperti membeli barang tanpa mengecek harga dan
kualitasnya. Rasio keuangan adalah "label harga" yang sebenarnya.
C. Jenis Rasio Keuangan yang Populer
Ada banyak
rasio yang digunakan dalam analisis fundamental saham. Beberapa yang paling
sering disebutkan antara lain:
•
PER (Price Earning Ratio): Mengukur valuasi berdasarkan
kemampuan laba
•
PBV (Price to Book Value): Mengukur valuasi berdasarkan
nilai aset/ekuitas
•
ROE (Return on Equity): Mengukur efisiensi perusahaan
menghasilkan laba dari modal
•
DER (Debt to Equity Ratio): Mengukur seberapa besar
utang dibanding ekuitas
•
EPS (Earnings Per Share): Laba bersih per lembar saham
Dalam artikel
ini, kita akan fokus mendalami PER dan PBV karena keduanya adalah yang paling
relevan dan mudah digunakan untuk menilai valuasi saham, terutama bagi pemula.
Pengertian Price Earning Ratio (PER)
A. Definisi PER
Price Earning
Ratio, atau yang sering disingkat PER (ada juga yang menulis P/E Ratio), adalah
rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan laba per saham (Earnings Per
Share/EPS) perusahaan tersebut.
Secara
sederhan, PER menunjukkan berapa kali lipat harga saham dibanding laba yang
dihasilkan perusahaan per lembar sahamnya.
B. Fungsi PER
PER digunakan
untuk mengukur valuasi saham berdasarkan profitabilitas perusahaan. Rasio ini
menjawab pertanyaan penting, "Apakah harga yang saya bayar untuk saham ini
sepadan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba?"
C. Konsep Sederhana
Ada cara
mudah untuk memahami PER secara intuitif. PER = 10x artinya, jika laba
perusahaan stabil, kamu butuh waktu sekitar 10 tahun untuk "balik
modal" dari laba yang dihasilkan perusahaan. PER = 20x artinya butuh 20
tahun. Semakin rendah PER, semakin cepat secara teoritis kamu bisa balik modal,
dan secara umum saham tersebut dianggap lebih murah.
Rumus Price Earning Ratio (PER)
A. Rumus PER
Rumus PER
sangat sederhana:
|
PER = Harga Saham / EPS (Earnings Per Share) |
B. Cara Menghitung EPS
Sebelum bisa
menghitung PER, kamu perlu tahu dulu nilai EPS. Rumusnya juga tidak sulit:
|
EPS = Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar |
EPS (Earnings
Per Share) atau Laba Per Saham adalah angka yang menunjukkan berapa laba bersih
perusahaan yang dialokasikan untuk setiap lembar saham yang beredar di pasar.
Semakin tinggi EPS, semakin besar laba yang dihasilkan perusahaan per lembar
sahamnya, dan ini umumnya merupakan tanda yang baik.
C. Contoh Perhitungan PER
Mari kita
gunakan contoh nyata agar lebih mudah dipahami:
•
Sebuah perusahaan (misalnya PT Maju Bersama Tbk)
memiliki laba bersih sebesar Rp1 triliun
•
Jumlah saham yang beredar: 10 miliar lembar
•
Harga saham saat ini di bursa: Rp1.000 per lembar
Langkah 1 -
Hitung EPS:
|
EPS = Rp1.000.000.000.000 / 10.000.000.000 =
Rp100 |
Langkah 2 -
Hitung PER:
|
PER = Rp1.000 / Rp100 = 10x |
Artinya,
investor membayar 10 kali lipat dari laba per saham perusahaan tersebut. Apakah
10x itu murah atau mahal? Jawabannya: tergantung rata-rata PER industri
sejenis, yang akan kita bahas lebih lanjut.
Cara Membaca PER - Murah, Wajar, atau Mahal?
A. PER Rendah: Sinyal Murah?
Secara umum,
PER yang lebih rendah dari rata-rata industrinya mengindikasikan bahwa saham
tersebut mungkin sedang undervalued atau "murah". Ini bisa menjadi
peluang menarik bagi investor value.
Namun,
hati-hati dengan jebakan PER rendah. Saham bisa memiliki PER rendah bukan
karena murah, tapi karena memang kualitas perusahaannya kurang baik,
pertumbuhannya lambat, atau ada masalah fundamental yang membuat investor
enggan membeli. Selalu cari tahu "kenapa PER-nya rendah" sebelum
mengambil kesimpulan.
B. PER Tinggi: Pasti Mahal?
PER yang
tinggi bisa berarti saham sedang overvalued, tapi bisa juga berarti investor
percaya perusahaan tersebut akan tumbuh sangat pesat di masa depan. Saham-saham
teknologi dan perusahaan high-growth biasanya memiliki PER tinggi karena pasar
membayar premium untuk potensi pertumbuhan ke depan.
Contohnya:
perusahaan teknologi dengan pertumbuhan pendapatan 50% per tahun wajar jika
memiliki PER tinggi, karena laba saat ini masih kecil tapi diyakini akan
meledak di masa mendatang.
C. Selalu Bandingkan dengan Industri yang Sama
Ini adalah
aturan emas membaca PER: jangan pernah membandingkan PER saham dari industri
yang berbeda. PER rata-rata sektor perbankan bisa sangat berbeda dengan
sektor pertambangan atau teknologi. Bandingkan apelnya dengan apel, bukan
dengan jeruk.
Sebagai
referensi umum, rata-rata PER IHSG secara historis berkisar antara 15-20x. Tapi
angka ini bisa sangat bervariasi per sektor dan kondisi pasar. Gunakan data
terkini dari platform analisis saham terpercaya.
Kelebihan dan Kekurangan PER
Kelebihan
PER:
•
Mudah digunakan dan dipahami, bahkan oleh pemula
sekalipun
•
Sangat populer dan tersedia di hampir semua platform
analisis saham
•
Memungkinkan perbandingan cepat antar saham dalam
sektor yang sama
•
Mencerminkan ekspektasi pasar terhadap pertumbuhan laba
perusahaan
Kekurangan
PER:
•
Tidak bisa digunakan untuk perusahaan yang sedang
merugi (EPS negatif membuat PER tidak bermakna)
•
Tidak memperhitungkan struktur utang perusahaan,
padahal utang besar bisa mengancam kelangsungan bisnis
•
Rentan dimanipulasi jika angka laba yang dilaporkan
perusahaan tidak mencerminkan kondisi sesungguhnya
•
PER historis tidak selalu relevan untuk memprediksi
kinerja masa depan
Pengertian Price to Book Value (PBV)
A. Definisi PBV
Price to Book
Value (PBV) adalah rasio yang membandingkan harga pasar saham dengan nilai buku
per saham perusahaan. Nilai buku (book value) mencerminkan nilai aset bersih
perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban atau utangnya, dibagi dengan
jumlah saham yang beredar.
Sederhananya PBV menunjukkan berapa kali lipat pasar menghargai aset bersih perusahaan
tersebut.
B. Fungsi PBV
PBV digunakan
untuk menilai valuasi saham dari sisi aset atau kekayaan bersih perusahaan.
Rasio ini menjawab pertanyaan: "Apakah harga yang saya bayar untuk saham
ini sepadan dengan nilai aset yang dimiliki perusahaan?"
PBV sangat
berguna untuk perusahaan yang kekayaannya sebagian besar berupa aset nyata
(tangible assets) seperti tanah, gedung, mesin, atau investasi keuangan. Itulah
mengapa PBV sangat populer digunakan untuk menganalisis saham-saham perbankan,
properti, dan sektor keuangan.
C. Konsep Sederhana: Harga vs Nilai Aset Bersih
Bayangkan
sebuah perusahaan punya aset senilai Rp1 miliar (setelah dikurangi semua
utangnya). Jika kamu bisa membeli perusahaan itu seharga Rp800 juta saja (PBV
< 1), secara teori kamu mendapat nilai lebih dari yang kamu bayar. Menarik,
bukan?
Rumus Price to Book Value (PBV)
A. Rumus PBV
Rumus PBV
adalah:
|
PBV = Harga Saham / Nilai Buku per Saham (Book
Value per Share) |
B. Cara Menghitung Nilai Buku per Saham
Nilai buku
per saham dihitung dengan rumus berikut:
|
Nilai Buku per Saham = Total Ekuitas / Jumlah
Saham Beredar |
Total ekuitas
bisa kamu temukan di bagian neraca (balance sheet) laporan keuangan perusahaan,
yang wajib dipublikasikan setiap kuartal untuk emiten yang terdaftar di bursa.
C. Contoh Perhitungan PBV
Gunakan
contoh yang sama seperti sebelumnya:
•
PT Maju Bersama Tbk memiliki total ekuitas: Rp8 triliun
•
Jumlah saham beredar: 10 miliar lembar
•
Harga saham saat ini: Rp1.000 per lembar
Langkah 1 -
Hitung Nilai Buku per Saham:
|
Nilai Buku per Saham = Rp8.000.000.000.000 /
10.000.000.000 = Rp800 |
Langkah 2 -
Hitung PBV:
|
PBV = Rp1.000 / Rp800 = 1,25x |
Artinya,
pasar saat ini menghargai perusahaan ini 1,25 kali dari nilai aset bersihnya.
Apakah itu bagus atau buruk? Mari kita bahas cara membacanya.
Cara Membaca PBV: Panduan Praktis
A. PBV di Bawah 1x: Tanda Murah?
Secara teori,
PBV di bawah 1x berarti kamu membeli perusahaan dengan harga lebih murah dari
nilai aset bersihnya. Ini sering disebut sebagai kondisi undervalued dan
menjadi incaran investor bergaya value investing.
Tapi sekali
lagi, jangan langsung terlena. PBV rendah bisa juga mencerminkan bahwa pasar
tidak percaya aset perusahaan memiliki nilai seperti yang tercatat di buku,
misalnya karena kualitas aset yang buruk, risiko kredit tinggi, atau bisnis
yang sedang dalam masalah serius.
B. PBV di Atas 1x: Selalu Mahal?
PBV di atas
1x tidak selalu berarti mahal. Perusahaan dengan kualitas manajemen luar biasa,
merek yang kuat, loyalitas pelanggan tinggi, atau keunggulan kompetitif yang
sulit ditiru biasanya diperdagangkan dengan PBV premium. Pasar membayar lebih
untuk kualitas yang tidak selalu bisa ditangkap oleh angka akuntansi.
C. Cocok untuk Sektor Apa?
PBV paling
relevan dan efektif digunakan untuk sektor-sektor yang kekayaannya berbasis
aset, terutama:
•
Perbankan dan lembaga keuangan: Di mana aset utama
berupa pinjaman, investasi, dan surat berharga
•
Properti dan real estate: Di mana nilai tanah dan
bangunan sangat material
•
Asuransi dan multifinance
PBV kurang
relevan untuk perusahaan teknologi, media, atau platform digital yang nilai
terbesarnya justru ada pada intangible assets seperti paten, merek, data
pengguna, dan network effect, yang tidak selalu tercermin dalam nilai buku
akuntansi.
Kelebihan dan Kekurangan PBV
Kelebihan
PBV:
•
Sangat cocok dan akurat untuk perusahaan berbasis aset
seperti bank dan properti
•
Bisa digunakan bahkan ketika perusahaan sedang merugi
(karena menggunakan ekuitas, bukan laba)
•
Mudah dihitung karena data ekuitas tersedia di laporan
keuangan
Kekurangan
PBV:
•
Kurang relevan untuk perusahaan teknologi, media, atau
platform karena nilai utamanya ada di aset tidak berwujud (intangible assets)
•
Tidak mencerminkan kemampuan perusahaan menghasilkan
profit, sehingga bisa menyesatkan jika digunakan sendiri
•
Nilai buku bisa tidak akurat jika aset sudah lama tidak
direvaluasi sesuai harga pasar
Perbedaan PER dan PBV: Mana yang Lebih Baik?
Daripada berdebat mana yang lebih baik, lebih bijak jika kita memahami perbedaan dan peran masing-masing:
|
Aspek |
PER (Price Earning Ratio) |
PBV (Price to Book Value) |
|
Fokus Penilaian |
Laba/profitabilitas perusahaan |
Nilai aset/ekuitas perusahaan |
|
Rumus |
Harga Saham / EPS |
Harga Saham / Nilai Buku per Saham |
|
Cocok untuk |
Hampir semua sektor |
Perbankan, keuangan, aset berat |
|
Nilai Ideal |
Di bawah rata-rata industri |
Di bawah 1x bisa menarik |
|
Kelemahan |
Tidak cocok perusahaan rugi |
Kurang relevan sektor teknologi |
Kesimpulan
penting: PER dan PBV bukan pesaing, melainkan mitra. Idealnya, gunakan
keduanya secara bersamaan untuk mendapatkan gambaran valuasi yang lebih lengkap
dan akurat.
Cara Menggunakan PER dan PBV Secara Bersamaan
A. Kombinasi Analisis yang Efektif
Cara paling
cerdas menggunakan PER dan PBV adalah dengan mengombinasikannya. Berikut
panduan sederhana:
•
PER rendah + PBV rendah: Ini adalah kombinasi paling
menarik. Saham bisa sangat undervalued dan patut diteliti lebih dalam.
•
PER rendah + PBV tinggi: Perusahaan menghasilkan laba
cukup baik tapi pasar menghargai asetnya sangat tinggi. Perlu dianalisis lebih
lanjut.
•
PER tinggi + PBV rendah: Jarang terjadi, bisa
menandakan perusahaan sedang membenahi dirinya.
•
PER tinggi + PBV tinggi: Saham premium yang bisa mahal,
tapi juga bisa mencerminkan kualitas bisnis yang luar biasa.
B. Hindari Kesalahan Umum
Banyak
investor pemula yang hanya menggunakan satu rasio untuk membuat keputusan
besar. Ini sangat berisiko. Satu rasio hanya memberikan satu sudut pandang.
Gabungkan setidaknya dua atau tiga rasio untuk mendapat gambaran yang lebih
utuh.
C. Tambahkan Rasio Pelengkap (Opsional tapi Disarankan)
•
ROE (Return on Equity): Untuk mengukur seberapa efisien
perusahaan menghasilkan laba dari modalnya. ROE tinggi + PBV rendah adalah
kombinasi yang sangat dicari investor value.
•
DER (Debt to Equity Ratio): Untuk memastikan perusahaan
tidak terlalu banyak utang, yang bisa menggerogoti keuntungan di era suku bunga
tinggi.
Cara Menentukan Saham Murah atau Mahal
A. Bandingkan dengan Kompetitor
Langkah
pertama dan paling mudah adalah membandingkan PER dan PBV sebuah saham dengan
kompetitor terdekatnya di sektor yang sama. Jika saham A memiliki PER 8x
sementara rata-rata kompetitornya 15x, saham A patut diperiksa lebih dalam
sebagai kandidat undervalued.
B. Lihat Histori Rasio
Selain
membandingkan dengan kompetitor, lihat juga histori PER dan PBV saham tersebut
di masa lalu. Apakah saat ini lebih rendah atau lebih tinggi dari rata-rata
historisnya? Jika jauh di bawah rata-rata historis tanpa ada perubahan
fundamental yang signifikan, ini bisa menjadi sinyal menarik.
C. Gunakan Margin of Safety
Konsep margin
of safety yang dipopulerkan oleh Benjamin Graham menyarankan agar investor
membeli saham dengan harga yang cukup jauh di bawah estimasi nilai wajarnya.
Ini memberikan "bantalan keamanan" kalau analisismu ternyata meleset.
Dalam konteks PER dan PBV, carilah saham yang rasionya signifikan di bawah
rata-rata industri, bukan hanya sedikit lebih rendah.
Tips Praktis untuk Investor Pemula
A. Mulai dari PER dan PBV
Jangan
langsung mencoba memahami semua rasio keuangan sekaligus. Mulailah dari PER dan
PBV karena keduanya paling mudah dipahami, paling sering dibahas, dan tersedia
di hampir semua platform investasi. Setelah nyaman, baru perlahan tambahkan
rasio lain seperti ROE dan DER ke dalam toolbox analisismu.
B. Gunakan Aplikasi Stock Screener
Di era
digital sekarang, kamu tidak perlu menghitung PER dan PBV secara manual setiap
hari. Manfaatkan fitur stock screener yang tersedia di berbagai platform
investasi seperti Stockbit, RTI Business, Bloomberg, atau fitur screener di IDX
(Bursa Efek Indonesia). Kamu bisa menyaring ratusan saham berdasarkan kriteria
PER dan PBV yang kamu tentukan dalam hitungan detik.
C. Fokus pada Perusahaan Besar Dulu
Sebagai
pemula, lebih baik mulai menganalisis saham-saham yang masuk dalam indeks LQ45
atau IDX30, yaitu saham-saham perusahaan terbesar dan paling likuid di Bursa
Efek Indonesia. Data keuangannya lebih mudah ditemukan, lebih transparan, dan
lebih mudah dibandingkan.
D. Jangan Overthinking Analisis
Ini adalah
jebakan yang sering membuat pemula tidak pernah memulai: menunggu sampai merasa
"cukup pintar" untuk berinvestasi. Ingat, bahkan investor paling
berpengalaman pun masih terus belajar. Mulailah dari yang sederhana,
praktikkan, dan evaluasi secara berkala. Kesalahan kecil di awal adalah biaya
belajar yang jauh lebih murah dibanding kehilangan kesempatan.
Kesalahan yang Harus Dihindari Saat Menggunakan PER dan PBV
A. Menggunakan Data Lama
Laporan
keuangan perusahaan dipublikasikan setiap kuartal. Pastikan kamu selalu
menggunakan data terbaru, bukan data dari satu atau dua tahun lalu. PER yang
dihitung dari laba tahun lalu bisa sangat menyesatkan jika kondisi bisnis
perusahaan sudah berubah drastis.
B. Tidak Memahami Bisnis Perusahaan
Rasio
keuangan hanyalah alat bantu, bukan pengganti pemahaman bisnis. Sebelum membeli
saham, usahakan kamu memahami: apa bisnis utama perusahaan, bagaimana mereka
menghasilkan pendapatan, siapa kompetitornya, dan bagaimana prospek industrinya
ke depan. Angka yang bagus di atas kertas bisa tidak berarti apa-apa jika model
bisnisnya tidak berkelanjutan.
C. Hanya Melihat Angka Tanpa Konteks
PER 5x bisa
terdengar sangat murah. Tapi kalau perusahaannya sedang menghadapi gugatan
hukum besar, kehilangan pelanggan utama, atau industrinya sedang sunset, angka
murah itu bisa menjadi jebakan. Selalu letakkan angka dalam konteks kondisi
bisnis yang lebih luas.
D. Mengabaikan Risiko
Tidak ada
investasi tanpa risiko, dan rasio keuangan tidak bisa mengukur semua jenis
risiko. Risiko regulasi, risiko geopolitik, risiko manajemen, dan risiko
likuiditas adalah faktor-faktor yang tidak bisa ditangkap oleh PER atau PBV.
Pastikan kamu juga mempertimbangkan faktor-faktor kualitatif ini dalam
keputusan investasimu.
Kesimpulannya,
PER dan PBV
adalah dua pilar dasar dalam analisis valuasi saham yang wajib dipahami oleh
setiap investor, terutama pemula. Keduanya memberikan sudut pandang yang
berbeda namun saling melengkapi: PER fokus pada kemampuan menghasilkan laba,
sementara PBV fokus pada nilai aset perusahaan.
Menggunakan
keduanya secara bersamaan memberikan gambaran yang jauh lebih komprehensif
dibanding hanya mengandalkan satu rasio. Dan yang terpenting, selalu
bandingkan dengan konteks industri yang sama, gunakan data terkini, dan
jangan abaikan pemahaman kualitatif tentang bisnis perusahaan.
Kabar
baiknya, memahami PER dan PBV tidak membutuhkan gelar keuangan atau keahlian
akuntansi. Dengan pemahaman yang sudah kamu miliki setelah membaca artikel ini,
kamu sudah selangkah lebih maju dari banyak investor pemula lainnya. Sekarang
saatnya mempraktikkannya: buka platform analisis saham favoritmu, pilih
beberapa saham, dan coba hitung serta bandingkan PER dan PBV-nya.
Investasi
cerdas dimulai dari pemahaman yang kuat. Dan kamu baru saja memperkuat fondasi
itu. Selamat berinvestasi!
FAQ: Pertanyaan Paling Sering tentang PER dan PBV
Apa itu
PER dalam saham?
PER (Price
Earning Ratio) adalah rasio yang membandingkan harga saham di pasar dengan laba
per saham (EPS) perusahaan. PER menunjukkan berapa kali lipat pasar menghargai
setiap rupiah laba yang dihasilkan perusahaan. Rumusnya: PER = Harga Saham /
EPS. Semakin rendah PER dibanding rata-rata industri sejenis, secara umum saham
tersebut dianggap lebih murah secara valuasi.
PER yang
bagus itu berapa?
Tidak ada
angka PER yang universal "bagus" atau "buruk" karena setiap
industri memiliki rata-rata PER yang berbeda. Sebagai panduan umum: PER di
bawah rata-rata industrinya bisa mengindikasikan saham undervalued, sementara
PER sangat tinggi bisa berarti overvalued atau mencerminkan ekspektasi
pertumbuhan tinggi. Di Indonesia, rata-rata PER IHSG secara historis berkisar
antara 15-20x, tapi selalu bandingkan dengan sektor yang sama.
PBV ideal
itu berapa?
PBV di bawah
1x secara teoritis berarti kamu membeli perusahaan dengan harga lebih murah
dari nilai aset bersihnya, yang menarik bagi value investor. Namun, standar
"ideal" PBV sangat bergantung pada sektor. Untuk perbankan, PBV
antara 1-2x sering dianggap wajar. Untuk sektor teknologi, PBV bisa sangat
tinggi karena nilai utama perusahaan ada pada aset tidak berwujud yang tidak
tercermin dalam nilai buku.
Mana yang
lebih penting, PER atau PBV?
Tidak ada
yang lebih penting karena keduanya mengukur hal berbeda. PER lebih tepat
digunakan untuk perusahaan yang menghasilkan laba konsisten di berbagai sektor,
sementara PBV lebih relevan untuk perusahaan berbasis aset seperti bank dan
properti. Untuk analisis yang solid, gunakan keduanya secara bersamaan,
ditambah rasio pelengkap seperti ROE dan DER agar gambaran yang kamu dapatkan
semakin utuh dan akurat.
.jpg)
Posting Komentar untuk "Rumus Price Earning Ratio (PER) dan PBV Saham: Cara Menghitung & Membaca-nya khusus Pemula"
Posting Komentar